Tampilkan postingan dengan label Catatan Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kuliah. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 November 2017

Hospitalisasi Anak


Hospitalisasi adalah masuknya individu ke rumah sakit sebagai pasien dengan berbagai alasan seperti pemeriksaan diagnostik, prosedur operasi, perawatan medis, pemberian obat dan menstabilkan atau pemantauan kondisi tubuh.
Hospitalisasi ini merupakan suatu keadaan krisis pada anak, saat anak sakit dan dirawat di rumah sakit. Keadaan ini (hospitalisasi) terjadi karena anak berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan asing dan baru yaitu rumah sakit, sehingga  kondisi tersebut menjadi stressor baik terhadap anak maupun orang tua dan keluarga, perubahan kondisi ini merupakan masalah besar yang menimbulkan ketakutan, kecemasan bagi anak yang dapat menyebabkan perubahan fisiologis dan psikologis pada anak jika anak tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Respon fisiologis yang dapat muncul meliputi seperti perubahan pada sistem kardiovaskuler seperti palpitasi, denyut jantung meningkat, perubahan pola napas yang semakin cepat, selain itu, kondisi hospitalisasi dapat juga menyebabkan nafsu makan menurun, gugup, pusing, tremor, hingga insomnia, keluar keringat dingin dan wajah menjadi kemerahan. Perubahan perilaku juga dapat terjadi, seperti gelisah, anak rewel, mudah terkejut, menangis, berontak, menghindar hingga menarik diri, tidak sabar, tegang, dan waspada terhadap lingkungan. Hal-hal tersebut membuat anak tidak nyaman serta mengganggu proses perawatan dan pengobatan pada anak. 

Hospitalisasi juga berdampak pada perkembangan anak. Hal ini bergantung pada faktor- faktor yang saling berhubungan seperti sifat anak, keadaan perawatan dan keluarga. Perawatan anak yang berkualitas tinggi dapat mempengaruhi perkembangan  intelektual  anak  dengan  baik  terutama  pada  anak-anak  yang kurang beruntung yang mengalami sakit dan dirawat di rumah sakit. Anak yang sakit dan dirawat akan mengalami kecemasan dan ketakutan.
Dampak jangka pendek dari kecemasan dan ketakutan yang tidak segera ditangani akan membuat anak melakukan penolakan terhadap tindakan perawatan dan pengobatan yang diberikan sehingga berpengaruh terhadap lamanya hari rawat, memperberat kondisi anak dan bahkan dapat menyebabkan kematian pada anak. Dampak jangka panjang dari anak sakit dan dirawat yang tidak segera ditangani akan menyebabkan kesulitan dan kemampuan membaca yang buruk, memiliki gangguan bahasa dan perkembangan kognitif, menurunnya kemampuan intelektual dan sosial serta fungsi imun
Perkembangan anak-anak tidak lepas dari bermain. Bagi anak, seluruh aktivitasnya adalah bermain yang juga mencakup bekerja, kesenangannya dan metode bagaimana mereka mengenal dunia. Ketika bermain, anak tidak hanya sekedar melompat, melempar atau berlari, tetapi mereka bermain dengan menggunakan seluruh emosi, perasaan, dan pikirannya. Demikian juga pada anak sakit, Bermain dapat digunakan sebagai media psiko terapi atau pengobatan terhadap anak yang dikenal dengan sebutan terapi bermain. 

Meskipun hospitalisasi menyebabkan stress pada anak, hospitalisasi juga dapat memberikan manfaat yang baik, antara lain menyembuhkan anak, memberikan kesempatan kepada anak unuk mengatasi stres dan merasa kompeten dalam kemampuan koping serta dapat memberikan pengalaman bersosialisasi dan memperluas hubungan interpersonal mereka. 

Dengan  menjalani  rawat inap  atau  hospitalisasi  dapat menangani masalah kesehatan yang dialami anak, meskipun hal ini dapat menimbulkan krisis. 
Manfaat psikologis selain diperoleh anak juga diperoleh keluarga, yakni hospitalisasi anak dapat memperkuat koping keluarga dan  memunculkan strategi koping baru. Manfaat psikologis ini perlu ditingkatkan dengan melakukan berbagai cara, diantaranya adalah

  1. Membantu mengembangkan hubungan orangtua dengan anak
    Kedekatan orang tua dengan anak akan nampak ketika anak dirawat di rumah sakit. Kejadian yang dialami ketika anak harus menjalani hospitalisasi dapat menyadarkan orang tua dan memberikan kesempatan kepada orang tua untuk memahami anak-anak yang bereaksi terhadap stress, sehingga orang tua dapat lebih memberikan dukungan kepada anak untuk siap menghadapi pengalaman di rumah sakit serta memberikan pendampingan kepada anak setelah pemulangannya.
  2. Menyediakan kesempatan belajar
    Sakit dan harus menjalani rawat inap dapat memberikan kesempatan belajar baik bagi anak maupun orangtua tentang tubuh mereka dan profesi kesehatan. Anak-anak yang lebih besar dapat belajar tentang penyakit dan memberikan pengalaman terhadap profesional kesehatan sehingga dapat membantu dalam memilih pekerjaan yang nantinya akan menjadi keputusannya. Orangtua dapat belajar tentang kebutuhan  anak untuk kemandirian, kenormalan dan keterbatasan. Bagi anak dan orangtua, keduanya dapat menemukan sistem support yang baru dari staf rumah sakit.
  3. Meningkatkan penguasaan diri
    Pengalaman yang dialami ketika menjalani hospitalisasi dapat memberikan kesempatan untuk meningkatkan penguasaan diri anak. Anak akan  menyadari bahwa mereka tidak disakiti/ditinggalkan tetapi mereka akan menyadari bahwa mereka dicintai, dirawat dan diobati dengan penuh perhatian. Pada anak yang lebih tua, hospitalisasi akan memberikan suatu kebanggaan bahwa mereka memiliki pengalaman hidup yang baik
  4. Menyediakan lingkungan sosialisasi
    Hospitalisasi dapat memberikan kesempatan baik kepada anak maupun orangtua untuk penerimaan sosial. Mereka akan merasa bahwa krisis yang dialami tidak hanya oleh mereka sendiri tetapi ada orang-orang lain yang  juga merasakannya. Anak dan orangtua akan menemukan kelompok sosial baru yang memiliki masalah yang sama, sehingga memungkinkan mereka akan saling berinteraksi, bersosialisasi dan berdiskusi tentang keprihatinan dan perasaan mereka, serta mendorong orangtua untuk membantu dan mendukung kesembuhan anaknya.








Saputro, H., & Fazrin, I. (2017). Penurunan Tingkat Kecemasan Anak Akibat Hospitalisasi dengan Penerapan Terapi BermainJKI (Jurnal Konseling Indonesia)3(1), 9-12.

Saputro, H., & Fazrin, I. (2017). Anak Sakit Wajib Bermain di Rumah Sakit: Penerapan Terapi Bermain Anak Sakit; Proses, Manfaat dan Pelaksanaannya. FORIKES; Ponorogo.
Share:

Kamis, 07 Agustus 2014

INTEGRATED MANAGEMENT CHILDHOOD OF ILLNESS

Integrated Management childhood of illness


IMCI/MTBS

Singkatan dari "Manajemen Terpadu Balita Sakit/Integrated Management Childhood of Illness".
ICATT : IMCI Computerized Adaptation and Training Tool

Mempelajari Tentang :
  • Cara menangani balita sakit
  • Cara memperhatikan semua masalah dan kebutuhan anak secara terpadu.
  • Cara memberi asuhan dasar pada bayi muda, untuk memastikan agar bayi muda segera dapat beradaptasi dengan cepat dan aman

PRINSIP DARI PEDOMAN MANAJEMEN TERPADU KASUS KLINIS

Pedoman MTBS didasari oleh prinsip berikut:
  • Semua balita sakit umur sampai 5 tahun diperiksa untuk tanda bahaya umum dan semua bayi muda diperiksa untuk tanda-tanda penyakit sangat berat. Tanda-tanda ini menunjukkan perlunya rujukan segera atau dirawat di rumah sakit.
  • Anak dan bayi kemudian dinilai untuk gejala utama. Untuk anak yang lebih tua, gejala utama termasuk batuk atau kesulitan bernapas, diare, demam, dan infeksi telinga. Untuk bayi muda, gejala utama meliputi infeksi bakteri lokal, diare, dan ikterus. Sebagai tambahan, semua anak secara rutin dinilai status gizi dan imunisasinya serta masalah potensial lainnya.
  • Hanya menggunakan tanda-tanda klinis dalam jumlah terbatas, dipilih berdasarkan sensitivitasnya dan spesivisitasnya untuk mendeteksi penyakit.
  • Suatu kombinasi dari tanda-tanda individual mengarah pada satu klasifikasi anak dalam satu atau lebih kelompok gejala, dan bukan satu diagnosa. Klasifikasi penyakit didasarkan pada sistem triase dengan kode warna: “Merah muda“ menunjukkan perlunya rujukan segera sedangkan “kuning“ menunjukkan diperlukannya pengobatan spesifik pada pasien rawat jalan, dan “hijau“ menunjukkan perawatan di rumah.
  • Prosedur tatalaksana dari MTBS menggunakan obat-obat esensial dengan jumlah terbatas dan mendorong partisipasi aktif dari pengasuh anak dalam menangani anak.
  • Suatu komponen esensial dari MTBS adalah konseling bagi ibu/pengasuh anak berkaitan dengan perawatan di rumah, pemberian makan dan cairan yang tepat, dan kapan harus kembali ke klinik, dengan segera atau untuk tindak lanjut.

TATA LAKSANA BALITA SAKIT UMUR 2 BLN – 5 TH

1.  Penilaian dan klasifikasi anak

Menanyakan kepada ibu tentang masalah anak: 

- Beberapa teknik sederhana akan membantu anda agar lebih efektif pada saat menghadapi ibu dan anaknya yang sakit.
- Sambut ibu dengan baik tanpa terburu-buru dan mintalah ibu untuk duduk bersama anaknya.
- Upayakan untuk
  • Menghindari penggunaan kata yang menghakimi ibu dan anak seperti “salah“ atau “jelek“
  • Duduk dengan kepala anda sejajar dengan kepala ibu
  • Melihat ibu dan memberi perhatian saat ibu berbicara
  • Menghilangkan halangan (meja atau buku) antara anda dan ibu
  • Membuat ibu merasa bahwa anda punya waktu untuk mendengarkan

- Periksa apakah berat badan dan suhu badan anak sudah dicatat. Jika belum, tunggu sampai setelah anda membuat penilaian dan klasifikasi gejala utama anak. Selanjutnya timbang anak dan ukur suhunya.
- Jangan melepas baju anak atau mengganggu anak pada tahap ini.
- Tanyakan kepada ibu apa saja masalah anak. Alasan penting diajukannya pertanyaan ini adalah untuk mengawali berkomunikasi yang baik dengan ibu. Komunikasi yang baik memberikan jaminan kepada ibu bahwa anaknya akan mendapatkan perawatan yang baik. Pada bagian akhir dari kunjungan, anda akan mengajari dan menasihati ibu tentang perawatan anaknya di rumah. Hal ini akan mudah bagi anda bila sejak awal anda mampu berkomunikasi secara baik dengan ibu
- Tentukan apakah kali ini merupakan kunjungan pertama atau merupakan kunjungan ulang untuk masalah tersebut.
- Jika merupakan kunjungan pertama dari episode penyakit tersebut, berarti anda perlu mengikuti prosedur tatalaksana kasus dengan MTBS untuk menilai dan mengklasifikasikan anak.
- Jika anak telah datang beberapa hari sebelumnya untuk penyakit yang sama, berarti merupakan kunjungan ulang. Tujuan kunjungan ulang adalah untuk mengetahui apakah pengobatan yang diberikan saat kunjungan pertama memberikan hasil. Jika keadaan anak tidak membaik atau keadaannya memburuk, mungkin anda perlu merujuk anak atau mengganti pengobatannya

Memeriksa tanda bahaya umum

Berikut ini tanda bahaya umum pada anak kecil:
1- Anak tidak bisa minum atau menyusu
2- Anak memuntahkan semuanya
3- Anak kejang selama sakit ini atau kejang saat ini
4- Anak letargis atau tidak sadar

Menilai 4 gejala utama:

1. Batuk atau sukar bernapas (Tarikan dinding dada kedalam, Stridor (periksa saat menarik nafas)) 





2. Diare = BAB Cair ... 3 kali atau lebih dalam 24 jam, Lebih sering terjadi pada bayi umur di bawah 6 bulan yang mendapat susu sapi atau susu formula. Buang air besar yang sering tapi normal bukanlah diare.    §  Diare cair akut
Diare persisten : selama 14 hari atau lebih, dapat menimbulkan masalah gizi yang mempunyai kontribusi terhadap kematian pada anak dengan diare.
Disenteri atau diare berdarah menyebabkan dehidrasi dan bisa menyebabkan kurang gizi. Penyebab paling sering dari disenteri adalah bakteri Shigella. Disenteri amuba jarang terjadi pada anak kecil. Seorang anak bisa menderita diare cair dan disenteri.
















    3. Demam








    4. Masalah telinga




    Lain-lain (Gizi/Anemia, Vitamin, Imunisasi)

    2. Menentukan tindakan pada anak
    • Suatu klasifikasi pada lajur merah muda berarti anak membutuhkan perhatian dan rujukan segera atau perlu dirawat inap. Ini merupakan klasifikasi berat.
    • Suatu klasifikasi pada lajur kuning berarti anak membutuhkan obat oral yang tepat atau pengobatan lain. Tindakan mencakup mengajari ibu cara memberi obat oral atau mengobati infeksi lokal di rumah. Anda juga harus menasihati ibu cara merawat anaknya di rumah dan kapan harus kembali untuk kunjungan ulang.
    • Suatu klasifikasi pada lajur hijau berarti anak tidak membutuhkan tindakan medis spesifik seperti antibiotik. Ajari ibu atau pengasuh tentang cara merawat anak di rumah. Sebagai contoh, anda mungkin perlu menasihati tentang cara memberi makan anak sakit atau memberi cairan untuk diare. Selanjutnya ajari ibu tentang tanda yang menunjukkan kapan anak harus kembali segera ke fasilitas kesehatan.

    TATA LAKSANA BAYI MUDA UMUR < 2 BLN

    • Proses penanganan bayi muda umur kurang dari 2 bulan atau anak sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun sangat mirip. Namun demikian bayi muda memiliki karakteristik khusus yang harus diperhatikan ketika anda melakukan klasifikasi penyakit mereka. Dalam hal ini, anda akan menilai, mengklasifikasi dan mengobati bayi muda sedikit berbeda dengan bayi yang berumur lebih tua atau pada anak balita.
    • MTBS tidak memasukkan tatalaksana kondisi yang berhubungan dengan kelahiran dan persalinan atau kondisi bayi baru lahir yang memerlukan tatalaksana khusus seperti asfiksia, sepsis akibat ketuban pecah dini atau infeksi lain dalam rahim, trauma lahir, atau kondisi akibat imaturitas


    1. Memastikan asuhan dasar untuk setiap bayi baru lahir


    2. Menilai dan mengklasifikasikan setiap bayi muda yang berada dalam penanganan anda

    3. Jika perlu, menentukan tindakan yang tepat, serta memberi pengobatan bayi muda sakit dan memberikan konseling bagi ibu
    4. Memastikan perawatan tindak lanjut yang tepat


      Share:

      Sabtu, 26 Oktober 2013

      Perbedaan Desain Kualitatif Dengan Desain Kuantitatif


      Sebelum kita melakukan penelitian yang sebenarnya, kita perlu memahami dengan apa yang disebut sebagai Desain Penelitian. 
      Desain penelitian merupakan prosedur-prosedur yang digunakan oleh peneliti dalam pemilihan, pengumpulan dan analisis data secara keseluruhan. Dapat dikatakan bahwa desain penelitian merupakan proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara menyeluruh.
      Semua hal yang ada dalam penelitian digambarkan dengan adanya desain penelitian.

      Untuk Lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
       
      KARAKTERISTIKKUANTITATIFKUALITATIF
      DESAIN
      -Spesifik, rinci dan jelas
      -Ditentukan sejak awal
      -Menjadi pedoman langkah selanjutnya 
      -Umum
      -Fleksibel
      -Berkembang selama proses penelitian 
      TUJUAN
      -Menunjukkan hubungan antar variabel
      -Menguji teori
      -Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif
      -Menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif
      -Menemukan teori
      -Menggambarkan realitas yang kompleks
      -Memperoleh pemahaman makna
      TEKNIK PENGUMPULAN DATA
      -Kuesioner
      -Observasi dan wawancara terstruktur
      -Participant observation
      -In dept interview
      -Dokumentasi
      -Triangulasi
      INSTRUMEN PENELITIAN
      -Test, angket, wawancara terstruktur
      -Instrumen yang telah terstandar
      -Peneliti sebagai instrumen
      -Buku catatan, tape recorder, kamera, handycam, dll
      DATA
      -Kuantitatif
      -Hasil pengukuran variabel
      -Deskriptif/kualitatif
      -Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan/tindakan responden, dll
      SAMPEL
      -Besar
      -Representatif
      -Sedapat mungkin random
      -Ditentukan sejak awal
      -Kecil
      -Tidak representatif
      -Purposif, Snowball
      -Berkembang selama proses penelitian
      ANALISIS
      - Setelah selesai pengumpulan data
      -Deduktif
      -Menggunakan statistik untuk menguju hipotesis
      - Terus menerus sejak awal sampai akhir
      -Induktif
      -Mencari pola, model, tema, teori
      HUBUNGAN DENGAN RESPONDEN
      -Dibuat berjarak, bahkan tanpa kontak supoaya obyektif
      - Kedudukan peneliti lebih tinggi daripada responden
      -Jangka pendek sampain hipotesis dapat dibuktikan
      - Empati, akrab supaya memperoleh pemahaman yang mendalam
      -Kedudukan sama
      -Jangka lama sampai data jenuh, dapat ditemukan hipotesis atau teori
      USULAN DESAIN
      -Luas dan rinci
      -Literatur yang berhubungan dengan masalah dan variabel yang akan diteliti
      -Prosedur spesifik dan rinci langkah-langkahnya
      -Masalah dirumuskan dengan spsifik dan jelas
      -Hipotesis dirumuskan dengan jelas
      -Ditulis dengan rinci dan jelas sebelum terjun kelapangan
      -singkat, umum bersifat sementara
      -Literatur yang digunakan bersifat sementara. Tidak menjadi pegangan utama
      -Prosedur bersifat umum
      -Masalah bersifat sementara dan akan ditentukan setelah studi pendahulauan
      -Tidak dirumuskan hipotesis
      -Fokus penelitian ditentukan setelah diperoleh data awal
      KAPAN PENELITIAN DIANGGAP SELESAI
      Setelah semua kegiatan yang direncanakan dapat diselesaikan
      Setelah tidak ada yang dianggap baru/sudah jenuh
      KEPERCAYAAN TERHADAP HASIL PENELITIAN
      Pengujian validitas dan reliabilitan instrumen
       Pengujian kredibilitas, depenabilitas, proses dan hasil penelitian



      Bacaan Lainnya:

      Pengkajian Keperawatan Keluarga
      Peraturan Menteri Kesehatan No 17 Tentang Ijin Penyelenggaraan Praktek Keperawatan
      Meminimalkan perdarahan dengan traksi kateter pada pasien Post Op TURP
      Share:

      Senin, 14 Oktober 2013

      Trend Dan Issue Keperawatan Anak Terkait Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)


      Anak bukanlah miniatur dari orang dewasa, anak berbeda sifat, tingkah laku, keinginan yang berbeda dengan orang dewasa. Umumnya orang dewasa menganggap merawat anak sama dengan merawat dirinya sendiri dan perlakuannya pun tidak dibedakan.

      Dewasa ini banyak hal yang terjadi terkait masalah-masalah anak yang mengakibatkan/berefek pada fisik maupun psikologis anak yang disebabkan oleh orang tua, lingkungan ataupun keterbatasan/kelainan yang ditimbulkan faktor genetik/biologis anak tersebut. Salah satunya adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

      Anak dengan kebutuhan khusus adalah istilah klasifikasi untuk menerangkan tentang anak dan remaja yang secara fisik, psikologis, dan atau sosial mengalami masalah yang serius dan menetap (Mohon and Kibirige, 2004).
       Anak dengan kemampuan khusus atau anak dengan kemampuan berbeda
      mempunyai arti yang luas meliputi:
      a) Anak dengan kemampuan lebih dan
      b) Anak dengan kemampuan kurang
      Anak Berkebutuhan Khusus memiliki atau berisiko tinggi terjadinya :
      • Kondisi fisik kronik
      • Perkembangan perilaku dan kondisi emosional
      • Perkembangan yang menyimpang dari standar
      Anak Berkebutuhan Khusus membutuhkan layanan khusus baik jenis, kualitas, kuantitas maupun intensitas layanan kesehatan yang lebih.
      Anak Berkebutuhan Khusus juga memiliki atau berisiko tinggi terkait dengan masalah dilingkungan seperti pelecehan seksual terhadap anak dan penyalahgunaan zat adiktif/obat. (Katsner, 2004; Hommer, 2008)

      Secara global diperkirakan ada 370 juta penyandang disabilitas atau sekitar 7% populasi dunia di mana 80 juta di antaranya membutuhkan rehabilitasi dan dari jumlah tersebut hanya 10% saja yang mempunyai akses ke pelayanan tersebut (WHO, 2002).
      Di Indonesia diperkirakan sekitar 3-7% atau sekitar 5,5-10,5 juta anak usia di bawah 18 tahun (UU Perlindungan Anak no. 22 tahun 2004) menyandang ketunaan atau masuk kategori anak berkebutuhan khusus.
      Penurunan angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian balita (AKABA) seharusnya tidak diikuti dengan peningkatan angka kecacatan (disability / difability).
      Pengendalian angka kelahiran dan penurunan AKB dan AKABA -- program
      peningkatan kualitas anak
      * Life saving technology dan meningkatnya usia harapan hidup -- disabilitas meningkat

      FAKTOR RISIKO DISABILITAS
      a. Faktor genetik;
      b. Faktor lingkungan baik lingkungan internal (faktor-faktor yang terdapat dalam diri janin/bayi atau anak itu sendiri) dan faktor ekstrinsik seperti kondisi ibu hamil, lingkungan tempat tinggal, pola asuh (otoriter, partisipatif, demokratis, permisif), pola makan,
      c. Faktor rekayasa (terstruktur dan sistematis) baik rekayasa genetik maupun rekayasa lingkungan.

      PENYEBAB DISABILITAS
       Disabilitas bawaan : biasanya terjadi ketika anak masih dalam kandungan yang disebabkan ibu mengalami gangguan penyakit atau metabolisme, kelainan kromosomal, gangguan genetik, dll
      Disabilitas yang diturunkan (herediter): disebabkan kelainan genetik, misalnya : distrophia musculorum progresive, penyakit down syndrome.
      Disabilitas yang tidak diturunkan (non-herediter) : disebabkan waktu ibu hamil minum alkohol berat, kurang gizi, mengalami infeksi rubella dan toxoplasma, kekurangan hormon thiroid, trauma pada perut ibu amil atau akibat radiasi.

       Disabilitas setelah lahir (didapat) : terjadi pada saat proses kelahiran bayi -- kesalahan penanganan waktu persalinan, terinfeksi penyakit, bakteri, virus, kurang gizi, kecelakaan
      – Trauma kecelakaan
      – Kecacatan akibat kecelakaan
      – Kecacatan akibat bencana alam dan sosial
      – Penyakit (Penyakit infeksi : TBC, polio, dll; Penyakit pengeroposan tulang; Penyakit metabolik; Penyakit gizi)

      DETEKSI DINI ANAK DENGAN DISABILITAS
      Deteksi dini merupakan upaya penjaringan atau penemuan anak berkelainan (penemuan kasus) dan penyaringan atau penemuan faktor risiko (Sunartini 1992, Sunartini 2007, Ali Syahbana, 1996). Tujuan deteksi dini menemukan kelainan atau penyakit yang menyebabkan sesuatu kecacatan/ketidakmampuan sedini mungkin sebelum kelainan atau kecacatan yang lebih serius muncul dengan akibat yang lebih buruk.
      Beberapa kriteria untuk dilakukannya skrining antara lain :
      1) Keadaan atau kelainan yang mempunyai nilai penting bagi kesehatan masyarakat;
      2) Terdapat obat atau tindakan lain untuk menanganinya;
      3) Adanya fasilitas diagnostik dan pengobatan yang memadai dan terbukti bekerja efektif untuk mengatasi kondisi hanya yang belum pasti/belum jelas;
      4) Keadaan dalam fase laten atau tanda awal yang dapat dikenali oleh orang tuanya dan diketahui oleh profesional (dokter, perawat atau bidan);
      5) Pemeriksaan yang dilakukan sedapat mungkin yang sederhana, mudah, dan valid untuk keadaan/kelainan yang masih menjadi pertanyaan.


      INTERVENSI DINI ANAK DENGAN DISABILITAS
      Imunisasi atau vaksinasi merupakan pemenuhan hak anak untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan
      imunisasi (Sri Rejeki, 2000, Depkes,2006).
      Intervensi dini meliputi rehabilitasi, substitusi hormon, diet khusus maupun tindakan-tindakan pengobatan, tindakan operasi maupun koreksi bila diperlukan.

      ISSUE-ISSUE ANAK DENGAN DISABILITAS
      a) Masalah pertumbuhan dan perkembangan anak
      b) Hak anak tidak cukup disosialisasikan dan belum sepenuhnya dilaksanakan
      c) Tidak terpenuhinya fasilitas kesehatan dan sekolah.
      d) Anak dijadikan pekerja
      e) Perdagangan anak
      f) Anak berkebutuhan Khusus juga memiliki atau beresiko tinggi terkait dengan masalah dilingkungan seperti pelecehan seksual terhadap anak dan penyalahgunaan zat adiktif/obat.








      Bahan Lainnya..

      Toilet Training, Latihan mengontrol Kemih dan Buang Air Besar
      Apa sih Endorfin/Endorphine itu
      Terapi Kejang Listrik/Electro Convultion Therapy
      Share:

      Rabu, 09 Oktober 2013

      Toilet Training, Latihan Mengontrol Berkemih dan Defekasi


      Toilet Training atau biasa dikenal dengan latihan BAB (Latihan Defekasi) dan BAK (Latihan Berkemih), terjadi sekitar usia 18 dan 24 bulan, saat kontrol volunter sfingter anal dan uretra tercapai.
      Pada tahap ini memerlukan kesiapan psikologis anak, anak harus mampu mengeluarkan, menahan dan juga mengkomunikasikan sensasi ini kepada orang tua. Biasanya kesiapan psikologis dan fisiologis belum lengkap sebelum anak usia 18 sampai 24 bulan. Sebab pada masa ini, anak telah menguasai mayoritas keterampilan motorik kasar yang penting, sudah bisa mengkomunikasikan hal hal penting, menyadari kemampuan mengontrol diri dan memuaskan orang tua.
      Menurut Luxem and Christophersen (1994) latihan defekasi lebih cepat dan mudah daripada latihan berkemih. Sensasi defekasi (BAB) lebih kuat, lebih teratur dan lebih mudah diramalkan serta dapat menarik perhatian anak. Banyak yang belum menyelesaikan latihan berkemih pada usia 4 dan 5 tahun dan bahkan penyelesaian latihan yang lebih dari usia tersebut masih normal.
      Banyak teknik yang dapat membantu ketika memulai latihan, salah satunya pemilihan tempat duduk berlubang untuk eliminasi (Potty Chair) dan atau penggunaan toilet. Kemudian tempat duduk yang kakinya menjejak dilantai membuat anak merasa nyaman dan aman.
      Anak laki-laki bisa memulai toilet training dengan posisi berdiri atau duduk/jongkok ditempat yang telah disediakan, meniru ayahnya selama masa prasekolah merupakan dorongan motivasi yang sangat kuat.
      Sesi latihan harus dibatasi pada 5 sampai 10 menit, orang tua harus tetap mendampingi anak dan mengajarkan kebersihan (membersihkan) setiap kali selesai berkemih ataupun defekasi.
      Selalu memberikan pujian positif disetiap tindakannya, serta memakaikan pakaian yang mudah dilepas, selain itu juga memberikan contoh bagaimana berkemih ataupun defekasi yang benar sangat dianjurkan. Hal yang perlu diperhatikan adalah memukulnya bilapengeluaran eliminasi tidak pada tempatnya dan cara kontrol negatif HARUS dihindari (Taubman, 1997).
      Anak mengompol disiang hari di tempat yang tidak semestinya adalah hal yang biasa terutama pada periode aktivitas intensif, anak kecil jika sudah bermain terkadang melupakan berkemih jika tidak diingatkan, oleh karena itu anak-anak harus sering diingatkan dan diantar ke wc/toilet/rest room.


      Source;
      Wong’s Essentials Of Pediatric Nursing, 6th Ed, Mosby Inc

      Baca Juga: 

      Share:

      Sabtu, 30 Maret 2013

      APGAR Keluarga

      APGAR Keluarga merupakan kuesioner skrining singkat yang dirancang untuk merefleksikan kepuasan anggota keluarga dengan status fungsional keluarga dan untuk mencatat anggota-anggota rumah tangga.
      APGAR ini merupakan singkatan dari; Adaptation, Partnership, Growth, Affection dan Resolve.
       
      APGAR KELUARGA
      DefinisiFungsi yang Diukur Dengan APGAR KeluargaPertanyaan Terbuka yang Relevan
      Adaptasi Adalah Penggunaan sumber-sumber intra dan ekstra keluarga untuk menyelesaikan masalah jika keseimbangan keluarga tertekan selama krisisBagaimana sumber-sumber dibagi, atau seberapa besar derajat kepuasan anggota keluarga terhadap bantuan yang diterima ketika sumber-sumber keluarga dibutuhkanBagaimana anggota Keluarga saling membantu satu sama lain disaat membutuhkan sesuatu?, dengan cara apa anggota keluarga menerima pertolongan atau bantuan dari teman dan lembaga komunitas?
      Partnership (Kemitraan) adalah pembagian pengambilan keputusan dan memupuk tanggung jawab anggota keluargaBagaimana keputusan dibagi, atau bagaimana kepuasan anggota keluarga terhadap mutualitas dalam komunikasi dan penyelesaian masalah keluargaBagaimana anggota keluarga berkomunikasi satu sama lain tentang masalah-masalah tertentu seperti liburan, finansial, pengeluaran yang besar dan masalah pribadi?
      Growth (Pertumbuhan) adalah Kematangan fisik dan Emosional dan Pemenuhan diri sendiri yang dicapai oleh anggota keluarga melalui dukungan dan panduan yang mutualBagaimana pembagian pengasuhan atau kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan yang tersedia didalam keluarga untuk mengubah peran dan mencapai pertumbuhan atau kematangan fisik dan emosionalBagaimana perubahan anggota keluarga selama tahun-tahun terakhir, Bagaimana perubahan ini diterima oleh anggota keluarga, Dengan cara apa anggota keluarga saling membantu dalam pertumbuhan atau pengembangan gaya hidup yang mandiri, Bagaimana reaksi anggota keluarga pada keinginan untuk berubah?
      Afeksi (Kasih Sayang) adalah hubungan saling peduli atau saling mencintai yang terdapat diantara anggota keluargaBagaimana pengalaman emosional dibagi atau kepuasan anggota keluarga terhadap keintiman dan interaksi emosional yang ada di dalam keluarga.Bagaimana respon anggota keluarga anda terhadap ekspresi emosional seperti kasih sayang, cinta, penderitaan atau marah
      Resolve (Penyelesaian) Adalah komitmen untuk memberikan kesempatan pada anggota keluarga untuk perawatan fisik dan emosional. Hal ini juga biasanya melibatkan suatu keputusan untuk bberbagi kekayaan dan ruangBagaimana waktu(dan ruang dan uang) dibagi atau kepuasan anggota keluarga terhadap komitmen waktu yang telah dibuat oleh anggota keluarga untuk keluargaBagaimana anggota Keluarga anda berbagi waktu, ruang, dan uang?
      Dimodifikasi dari Smilkstein G: The Family APGAR: a proposal for a family function test and its use by physician, J Fam Pract 6(6):1231-1239, 1978



      Bacaan Terkait:
      Pengkajian Keperawatan Keluarga

      Share:

      Jumat, 15 Februari 2013

      Bisakah Olahraga Menyebabkan Gangguan Jantung


      Melanjutkan pembahasan pada posting sebelumnya tentang Jantung..
      Pernahkah anda berolahraga..
      Apa yang terjadi pada jantung anda saat olahraga...
      Sedikit mengulas pembahasan sebelumnya..
      Salah satu penyebab kejadian penyakit jantung adalah terbiasanya jantung berdetak lebih cepat sehingga menimbulkan pembesaran otot jantung dan bahkan sampai payah jantung..

      Masih ingat dengan Endorfin??
      Sebuah hormon yang meningkatkan rasa nyaman dan berfungsi sebagai morfin tubuh..
      Saat berolahraga..jantung kita akan berdetak dengan cepat..
      Saat berolahraga..tubuh kita akan merasakan rasa nyaman dan biasanya dalam berolahraga kita akan menikmatinya..dengan menikmati hal tersebut maka hormon Endorfin/Endorphine pun akan keluar dan membuat tubuh kita terasa nyaman..berbeda halnya dengan kejadian jantung yang meningkat saat kita mengalami stress..
      Selain itu saat kita berolahraga tubuh juga melepaskan adrenalin, serotonin dan dopamin yang ketiganya bekerjasama membuat tubuh kita merasa lebih baik.

      Tapi dari semuanya itu, yang perlu diinget adalah "segala sesuatu yang berlebihan hasilnya akan merugikan bagi kita.."
      Jadi tidak heran seandainya ada kasus orang meninggal saat olahraga, apalagi jika diketahui telah mempunyai masalah pada jantung..Harus ekstra hati-hati dan jangan memaksakan tubuh untuk melakukan hal-hal yang berlebihan...
      Share:

      Minggu, 03 Februari 2013

      Endorphine/Endorfin Adalah Gabungan dari Endogenus dan Morphine


      Endorphine atau endorfin pasti bukan hal yang asing di telinga kita semua. Endorfin banyak sekali berhubungan dalam tubuh kita dan dijadikan sebagai penolong atau pahlawan dalam tubuh kita.
      Endorfin merupakan salah satu senyawa neuropeptida, endorphine, α, β, dan µ-Endorphine. Endorphine merupakan residu asam amino β-lipoprotein yang mengikat reseptor opiat (opium) pada berbagai daerah di otak. Endorfin diproduksi oleh kelenjar pituitary yang terletak dibawah otak.

      Endorfin merupakan gabungan dari endogenous dan morphine.
      Jadi bisa disimpulkan hormon endorfin ini berfungsi sebagai morphine bahkan ada yang mengatakan 200 kali lebih besar kekuatannya dari morphine. Endorfin dihasilkan oleh tubuh kita secara alami. Banyak cara yang dilakukan agar endorfin bisa dikeluarkan/dihasilkan, diantaranya dengan teknik relaksasi (nafas dalam, tertawa, tersenyum, hipnoterapi), Olah raga (mengeluarkan zat kimia dalam tubuh), Teknik Akupunktur, Teknik Meditasi sampai dengan berfikir positif dan pijat (massase).
      Selain itu perasaan stress dan rasa sakit/nyeri dapat menstimulus sekresi (pengeluaran) endorphine. Endorfin berinteraksi dengan reseptor opiat diotak kita terhadap rasa nyeri. Dengan sekresinya endorfin maka stress dan rasa nyeri akan berkurang.
      Berbeda halnya dengan obat Opiat (morfin, Kodein), dikarenakan endorfin dihasilkan langsung oleh tubuh kita, jadi tidak akan menyebabkan kecanduan atau ketergantungan.
      Selain menurunkan rasa nyeri dan stress, sekresi endorfin bisa meningkatkan selera makan, pelepasan hormon seks dan peningkatan respon imun.

      Pelepasan (sekresi) endorfin pada masing-masing individu juga berbeda, dua orang yang sedang stress atau mengalami nyeri tidak selalu sama sekresi endorfin yang dikeluarkan.

      Beberapa makanan juga ternyata bisa menstimulus sekresi endorfin, contohnya seperti cabai/lada/lombok dan coklat. Rasa ketidaknyamanan dari efek pedas dan rasa nyaman dari rasa coklat disinyalir menyebabkan pelepasan endorfin.

      Bukan perihal yang sulit untuk membuat pelepasan sekresi endorfin, dengan anda senyum saat berpapasan dengan teman, menonton komedi lawak sehingga anda tertawa, rekreasi walau hanya berkunjung ke kota tetangga, Pijat/massase agak tubuh terasa nyaman, serta dengan meditasi; bisa dengan Yoga, ibadah pada sang pencipta atau menyendiri menenangkan diri.

      Saat ibu melahirkan (inpartu) juga bisa kita lakukan stimulasi agar endorfin bisa dihasilkan serta β-endorphine ikut berperan dalam pelepasan prolaktin pada ibu menyusui.
      Bahkan banyak sumber mengatakan pelepasan endorfin merupakan salah satu penyebab awet muda dan mengapa usia seseorang menjadi lebih lama dibandingkan orang yang tidak berusaha mengeluarkan (sekresi) endorfin.
      Share:

      Sabtu, 12 Januari 2013

      Selasa, 06 November 2012

      Minggu, 26 Agustus 2012

      ELECTRO CONVULTION THERAPY (TERAPI KEJANG LISTRIK)

      PENGERTIAN
      Suatu intervensi non farmakologis dengan menggunakan aliran listrik yang singkat melalui otak untuk menginduksi kejang menyeluruh di SSP dibawah anestesi umum dan relaksan otot
      Merupakan terapi yang efektif untuk pasien yang menderita berbagai gangguan neuropsikiatrik dan pada pasien yang tidak berespon terhadap terapi farmakologis, mengalami efek samping yang berat sehingga medikasi tidak dapat ditoleransi, atau pasien dengan gejala sangat berat yang memerlukan intervensi mendesak dengan respon yang cepat.

      SEJARAH
      TKL ini berkembang secara empiris sejak tahun 1930-an. Pertama kali yang mengenalkan dan menggunakan TKL adalah Ugo Carletti dan L.Bini dengan dasar pemikiran model percobaan epilepsi yang menggunakan sengatan listrik untuk membangkitkan kejang (Wills,1976). Sejak pertama kali digunakan menimbulkan berbagai kontroversi. Karena melihat tindakan ECT/TKL merupkan tindakan yang “kejam dan barbar”(Mansfield dan Brian Harris,2000). Beberapa pasien yang mendapatkan terapi tersebut menggambarkan tindakan ECT merupakan hukuman bagi mereka atas tindakan yang telah mereka lakukan (The Independent,1998). Oleh karena hal tersebut tindakan ECT/TKL mengalami perkembangan, sehingga kesan tersebut di atas dapat berkurang. Pada tahun 1940 A.E Bernnett mengenalkan ECT/TKL dengan menambah obat muskulorelaksan sebelum pelaksanaan tindakan dilaksanakan, dengan alasan untuk meminimalisir efek samping fraktura. Sejak saat itu perkembangan penggunaan ECT/TKL memodifikasi dengan ; muskulorelaksan, anestesi umum dan oksigenasi (Berrios, 1983 dan Kaplan,1990).

      MEKANISME KERJA
      Efektifitas secara klinis ditentukan oleh bangkitan kejang pada SSP, sedangkan untuk kejang perifer tidaklah penting (Salzman,1979,Goldman,1984 dalam Giarto,1986).
      Tujuan dari TKL/ECT adalah melampaui nilai ambang kejang (Berrios,1983). Ambang kejang adalah jumlah minimal muatan listrik yang menginduksi kejang pada SSP secara menyeluruh (Sadock,2000).
      Cara kerja ECT/TKL sehingga mempunyai efek terapeutik belum diketahui dengan jelas (Willis,1974).
      Cara kerja ECT/TKL sehingga mempunyai efekterapeutik belum diketahui dengan jelas.
      a. Teori psikodinamik
      Kalinowsky (1980) menjelaskan bahwa efek penyembuhan dari ECT/TKL didasarkan pada pemberian hukuman terhadap perasaan bersalah. Disamping itu amneseia yang timbul karena terapi akan menghilangkan ingatan – ingatan yang tidak menyenangkan dan keadaan ini yang dianggap berperan dalam perbaikan klinik. Tetapi teori ini diakui sangat lemah,k neurosis yang terutama disebabkan oleh oleh faktor psikogenik seharusnya akan bereaksi baik, tetapi kenyataannya neurosis bukan indikasi untuk ECT/TKL.
      b. Teori organik.
      Hipotesanya terjadi perubahan neurotransmiter pada membran sel (Kolb dan Brodie,1982). ECT akan meningkatkan sensitifitas reseptor terhadap neurotrasmiter (Leigh,et.al,1979 dalam Giarto,1986)Salzman,1979 mengemukakan ECT/TKL meningkatkan turn over dopamin dan serotonin, juga akan terjadi peningkatan pelepasan Nor epineprin dari neuron ke reseptor serta terjadi juga kenaikan sintesis nor epineprin. ECT/TKL akan menstimulasi pelepasan serotonin (Iskandar 1981). ECT/TKL mekanisme kerjanya mirip dengan obat anti depresan. Setyonegoro dan Iskandar (1981) mengemukakan pada depresi terjadi gangguan neurotrasmiter otak yaitu; penurunan Nor Epineprin, Serotonin daan dopamin. ECT/TKL mmenaikan Nor epineprin dan serotonin, maka depresi dapat disembuhkan , karena kedua neurotransmiter kembali normal.
      Pada skizofrenia terjadi hipersensitifitas sistem dopamin, sehingga dopamin dicelah sinapsis meningkat. Dengan meningkatnya turn over dopamin karena TKL/ECT maka dopamin di celah sinapsis menjadi normal, sehingga skizofrenia bisa disembuhkan, akan tetapi tindakan ECT pada skizofrenia hanya ada sedikit bukti dalam mengubah gejala – gejala kronik skizofrenia.
      Pada manik terjadi peningkatan fungsi dopaminergik (Reus, 1984 dalam Giarto 1986). Dopamin dicelah sinap meningkat, kerna turn over dopamin, maka dopamin dicelah sinapsi kembali normal, sehingga manik bisa sembuh.

      Dosis
      Diberikan 2 – 3 kali per minggu. Dengan intesitas dan waktu dari yang terkecil dari ambang kejang.
      E. INDIKASI
      1. Depresi
      2. Manik
      3. Skizofrenia
      4. Katatonia
      5. Kondisi lain

      KONTRA INDIKASI
      1. Tidak ada kontra indikasi yang absolut
      2. Lesi kecil yang tersembunyi dan tidak daapat dideteksi dengan alat berada dalam resiko rendah.
      3. Resiko tinggi dari tindakan ECT/TKL adalah :
      a. Lessi SSP yang besar
      b. Peningkatan TIK
      c. Pergeseran garis tengan otak (midline shift) dengan pencitraan neurologis.
      d. Tumor otak
      e. Riwayat Bedah saraf
      f. Fraktura tulang tengkorak
      g. Stroke atau infak miokardial yang baru terjadi terutama jika ECT diberikan dalam 4 – 6 bulan setelah serangan.
      h. Gagal jantung kongestif yang tidak terkompensasi.

      KOMPLIKASI/EFEK SAMPING
      1. Efek kardiovaskuler
      2. Kematian
      3. Gangguan fungsi kognitif
      4. Kerusakan otak
      5. Kejang spontan
      6. Efek lain akibat ECT :

      TEKNIK ECT/TKL
      1. Mengenal alat Electroconvulsator
          Electro convulsator terdiri dari :
          a. Tombol power
          b. Electrode ( electroda + dan electrode - )
          c. Saklar pengatur waktu/timer
          d. Saklar pengatur intesitas
          e. Saklar pengatur cara masuknya arus (gelombang sinus atau gelombang dengan pulsasi singkat dan
              berulang).
      2. Metode ECT
          a. ECT/TKL dengan kejang.
              Tanpa anestesi umum dan tanpa obat muskulorelaksan.
          b. ECT/TKL tanpa kejang.
              Dengan anestesi umum dan obat muskulorelaksan.
      3. Cara penempatan electroda
          a. Unilateral
              - Penempatan pada hemisfer non dominan.
              - Gangguaan memori yang timbul lebih rendah dari pada perangsangan bilateral.
              - Jika gagal memberi respon terhadap ECT setelah pemberian 4 sampai 8 dengan dosis 2,5 sampai 5
                 kali ambang kejang, jika memungkinkan dosis dinaikan samapi dengan 5 kali ambang kejang. Jika
                 masih belum berspon, maka ganti dengan ECT bilateral.
          b. Bilateral
              - Penempatan elektrode pada bitemporofrontalis.
              - Dilakukan bila riwayat respon yang rendah terhadap ECT unilateral, pasien dengan riwayat respon
                 yang baik terhadap ECT bilateral sebelumnya, atau pada pasien dengan gejala psikiatrik yang berat.
      4. Stimulator ECT.
          a. Stimulus elektris harus cukup mengiduksi kejang menyeluruh (grandmall) dengan durasi yang mencukupi
              di SSP. Stimulasi yang hanya mengakibatkan kejang partial (fokal) tidak mempunyai keuntungan
              terapeutik.
          b. Karakteristik yang penting dari stimulator ECT, dilihat dari bentuk gelombang output ada 2 jenis alat electrokonvulsator :
      - Gelombang sinus  terdapat pada ECT yang lama, dimana gelombang sinus cenderung untuk menimbulkan cetusan neuronal yang lebih tidak efisien.
      - Gelombang dengan pulsasi singkat dan berulang (0,5 sampai 2,0 milisecon) dari arus listrik untuk mencetuskan potensial aksi pada kecepatan yang hampir sama dengan pola cetusan potensial aksi intrinsikdari neuron pada daerah kritis SSP, ini lebih disukai dimana relatif mudah untuk menghitung stimulus listriknya.
      5. Tahap – tahap respon pasien pad tindakan ECT.
          Pasien yang mendapatkan ECT/TKL akan mengalami tahap – tahap sebagai berikut
          a. Kejang Tonik
          b. Kejang Klonik
          c. Kejang tonik dan klonik
          d. Apneu
          e. Confuse dan tertidur slema 1 jam bila tidak terganggu.
      6. Protap ECT
      Lihat lampiran.

      Dalam melakukan tindakan ECT banyak hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh perawat pada saat:
      Sebelum ECT, prosedur yang benar adalah:
      1. Berikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang prosedur ECT.
      2. Dapatkan persetujuan tindakan secara tertulis.
      3. Puasakan setelah tengah malam.
      4. Minta pasien untuk melepaskan perhiasan, jepit rambut, kacamata, alat egar dengar dan gigi palsu.
      5. Pakaikan pakaian yang longgar dan nyaman.
      6. Kosongkan kandung kemih pasien.
      7. Berikan obat premedikasi (anestesi yang bekerja singkat dan perelaksasi otot).
      8. Obat dan alat yang diperlukan harus tersedia dan siap pakai.
      Saat pelaksanaan ECT:
      1. Buat pasien merasa nyaman.
      2. Dokter dan ahli anestesi akan memasangkan O2 untuk menyiapkan pasien yang mungkin akan mengalami apnea karena relaksasi otot.
      3. Berikan obat
      4. Letakkan pengganjal pada mulut untuk melindungi gigi pasien.
      5. Letakkan electrode kemudian berikan syok.
      Setelah dilakukan ECT, hendaknya dilakukan pemantauan dengan:
      1. Bantu pemberian O2 dan penghisapan lender sebagaimana mestinya.
      2. Pantau tanda-tanda vital.
      3. Setelah pernapasan pulih kembali, atur pasien dengan posisi miring sampai sadar. Pertahankan kelancaran jalan napas.
      4. Jika berespon orientasikan pasien.
      5. Gerakkan tubuh pasien dengan bantuan setelah mengecek kemungkinan hipotensi postural.
      6. Biarkan Pasien tidur sesaat jika diinginkan.
      7. Berikan makanan ringan.
      8. Libatkan dalam aktivitas sehari-hari seperti biasa, orientasi sebagaimana diperlukan.
      9. Tawarkan obat analgetik untuk sakit kepala sebagaimana diperlukan.


      I. ASUHAN KEPERAWATAN
      1. Pengkajian
      a. Identitas
      b. Inform Concent
      c. Pemeriksaan yang harus dikerjakan sebelum pelaksanaan adalah
      Riwayat penyakit (pernah atau sedang sakit fisik seperti panas, post stroke) TTV, Pemeriksaan fisik : EKG, Ro Thorak, darah rutin, kebersihan jalan nafas.
      2. Masalah keperawatan yang mungkin muncul.
      Sebelum dilakukan tindakan ECT :
      a. Cemas
      b. Kurang pengetahuan tentang prosedur pengobatan.,
      Selama pelaksanaan ECT
      a. Inefective breathing pattern
      b. Risk for trauma.
      Setelah pelaksanaan ECT
      a. Risk for trauma.
      b. Confusion acut
      c. Impaired Memory.
      3. Perencanaan dan Implementasi
      a. Anxiety reduction
      b. Enviroment management
      c. Prevention fall
      d. Physical restrain
      e. Vital sign monitor
      f. Seclution
      g. O2 therapy, memory training, Reality OrientationEvaluasi.
      5. Evaluasi
      a. Nafas spontan
      b. TTV normal
      c. Tdk ada keluhan pusing
      d. Tidak ada mual – muntah


      Share:

      Sample Text

      Copyright © Sharing and Health Education | Powered by Blogger