Banyaknya gangguan pada anak seperti kurang bersosialisasi, kurang inisiatif dan banyak diam karena takut salah dalam melakukan sebuah tindakan menandakan adanya masalah psikososil pada anak, dan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan perkembangan psikososial anak yaitu lingkungan keluarga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh antara lingkuangan keluarga terhadap perkembangan psikososial pada anak usia 4–6 tahun di Kelurahan Tosaren. Desain penelitian adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Responden diambil dengan menggunakan teknik Simple random Sampling. Populasi dalam penelitian ini Semua anak usia 4-6 tahun di Kelurahan Tosaren sebanyak 147 responden, sampel sebanyak 108 responden. Variabel independen adalah lingkungan keluarga, variabel dependen perkembangan psikosoial anak. Hasil analisis dengan menggunakan uji statistik Regresi logistic α=0,05.Hasil penelitian menunjukan hampir seluruh anak usia 4–6 di kelurahan Tosaren dengan lingkungan keluarga otoriter yaitu sebanyak 90 (83,3%) responden, sebagian besar anak usia 4–6 di kelurahan Tosaren dengan perkembangan psikosial bersalah yaitu sebanyak 75 (69,4%) responden dari total 108 responden. Hasil analisa data menunjukan bahwa tingkat signifikansi nilai p-value = 0,000 sehingga H1 diterima yang artinya ada pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan psikososial pada anak usia 4 – 6 tahun di Kelurahan Tosaren.Lingkungan mempengaruhi perkembangan psikososial anak, hal ini disebabkan karena lingkungan keluarga yang baik dapat memberikan kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan norma yang ada dalam kelurga dan masyarakat, sedangkan lingkungan keluarga yang terlalu otoriter dapat membatasi anak dalam mengekspresikan dirinya karena ketika anak mau berbuat sesuatu tetapi selalu memiliki perasaan takut bersalah sehingga anak lebih banyak pasif
Oleh : Jetris Saratial Sae 1, Koesnadi2, Heri Saputro2
Pendahuluan : Perkembangan anak selalu dipengaruhi oleh pola asuh yang diterapkan masing-masing orang tua. Jika perhatian, kasih sayang serta stimulasi perkembangan terhadap anak tetap dapat diberikan meskipun ibu bekerja, maka sebenarnya apa yang dilakukan seorang ibu adalah perbuatan yang sangat mulia, karena ibu telah berperan aktif dalam membantu perekonomian keluarga disamping tugas utamanya sebagai seorang ibu. Sedangkan ibu yang tidak bekerja juga mampu memberikan kasih sayang dan melakukan stimulasi perkembangan pada anak dengan baik. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui perbedaan pola asuh ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja terhadap perkembangan anak usia todler (1-3 tahun) di Kelurahan Kampungdalem Kota Kediri. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan studi komparasi dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kampung dalem dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Jumlah sampel yang didapat 40 orang sesuai kriteria inklusi. Pengumpulan data menggunakan lembar Kuisoner sedangkan analisa data menggunakan uji statistik Mann-Whitney Hasil : Dari hasil penelitian Pola Asuh yang di terapkan Ibu yang bekerja di Kelurahan Kampungdalem Kota Kediri yang terbanyak adalah pola asuh Otoriter sebanyak 16 responden (80%) dengan perkembangan anak sesuai perkembangan ada 1 orang, meragukan ada 5 orang dan menyimpang ada 10 orang. Sedangkan pola asuh yang di terapkan oleh ibu yang tidak bekerja di Kelurahan Kampungdalem Kota Kediri yang terbanyak adalah pola asuh demokratis sebesar 12 responden (60%) dengan perkembangan anak sesuai perkembangan ada 7 orang. Meragukan ada 4 orang dan menyimpang ada 1 orang. Sedangkan hasil analisis menunjukan bahwa ρ-Value 0,000 < α = 0.005 maka H0 ditolak atau ada pengaruh pola asuh ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja terhadap perkembangan anak usia todler (1-3 tahun).
Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disimpulkan bahwa yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja memiliki penerapan pola asuh yang berbeda, hal ini dapat mempengaruhi perkembangan anak. Kata Kunci : Pola Asuh, Ibu Bekerja Dan Tidak Bekerja, Toddler
Oleh : Chandra I.G. Febrian 1, Sentot Imami2, Lingga K Wardani2
Latar Belakang : Luka Bakar merupakan jenis kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibatkan sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi dan radiasi yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan kulit luar (Epidermis) maupun dalam (Dermis). Banyak cara yang digunakan untuk menyembuhkan luka bakar salah satunya metode tradisional seperti penggunaan tanaman kamboja (plumeria acuminate)
Tujuan Penelitian: Membuktikan adanya pengaruh pemberian daun kamboja (plumeria acuminate) terhadap penyembuhan luka bakar.
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini menggunakan true experimental design. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Universitas Brawijaya Malang selama 10 hari. Subyek penelitian adalah tikus putih betina (rattus novergicus strain wistar) sebanyak 20 ekor tikus putih betina yang dibagi menjadi 4 kelompok, 3 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data menggunakan observasi dengan perlakuan ekstrak daun kamboja pada luka dengan dosis yang sama. Data dianalisis menggunakan Uji Paramentrik Annova
Hasil: Kelompok A, 2 sampel mendekati sembuh, Kelompok B, 2 sampel sembuh dan 2 sampel mendekati sembuh, Kelompok C, 4 Sampel yang sembuh, sedangkan kelompok kontrol hanya 1 sample yang mendekati sembuh
Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian daun kamboja (plumeria acuminate) terhadap penyembuhan luka bakar.
Kata Kunci: Luka Bakar, Daun Kamboja, Tikus Putih.
PENDAHULUAN
Luka bakarmerupakan jenis kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibatkan sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi, dan radiasi, yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan kulit luar (epidermis), dan (dermis). Akibat yang ditimbulkan luka bakar dapat menjadi lebih serius, Hal ini bisa menyebabkan kehilangan cairan, lebih rentan untuk mengalami hipotermia (penurunan suhu tubuh akibat pendinginan). Dan mudah terjadi infeksi. ( Moenajad, 2001 ).
Ada tiga fase dari luka bakar yaitu: luka bakar derajat 1, yang terjadi bila kulit terpapar suhu panas pada daerah epidermis ( luas ), luka derajat 2, jika kerusakan kulit meliputi epidermis dan sebagian dermis dan ditandai dengan adanya reaksi inflamasi disertai proes eksudasi. Derajat 3, bila kerusakan kulit sudah mengenai daerah dermisdsan lebih dalam. (Brunner & Suddarth. 2001).
Penyembuhan luka bakar terkait dengan kembalinya fungsi sel dan organ tubuh kembali pulih, dengan sirkulasi darah merah yang normal dan asupan vitamin yang cukup, dan yang terpenting menjaga keadaan luka tetap bersih dan tidak terinfeksi, yang ditunjukkan dengan tanda dan respon yang berurutan dimana sel jaringan kulit secara bersama - sama, melakukan tugas dan berfungsi secara normal. Idealnya luka yang sembuh kembali normal secara struktur anatomi, fungsi dan penampilan. Perawatan luka saat ini berkembang cepat, dengan metode metode yang berbeda, jika tenaga kesehatan dan pasiennya memanfaatkan terapi yang sesuai dengan kebutuhan, semua tujuan perawatan luka adalah untuk membuat luka stabil dengan perkembangan jaringan yang baik dan suplai darah yang adekuat. (Tarigan. 2007).
Akhir akhir ini telah kita jumpai dan kita lakukan pada pengobatan luka bakar yang sudah menjadi tradisi turun temurun dari orang tua, dan mungkin hal ini sudah ada sejak zaman dahulu, yaitu dengan menggunakan metode tradisional atau non medis. Sebenarnya penyembuhan luka yang secara benar sudah kita ketahui secara medis dengan penggunaan obat dan tarapi medis lainnya. Pengobatan non medis sangat banyak kita jumpai dikehidupan kita dengan salah satunya menggunakan tanaman kamboja (Plumeria acuminate) yang diyakini dapat menyembuhkan luka bakar, biasanya tanaman ini yang dapat digunakan untuk menyembuhkan luka bakar yaitu dengan menggunakan daun kamboja (Plumeria acuminate), yang di tumbuk dan dioleskan pada luka tersebut. Dalam tanaman kamboja (Plumeria acuminate) dipercaya memiliki kandungan senyawa agoniadin, plumierid, asam plumerat, lipeol, dan asam serotinat, plumierid merupakan suatu zat pahit beracun. Kandungan kimia getah tanaman ini adalah damar dan asam plumeria sedangkan kulitnya mengandung zat pahit beracun. Akar dan daun kamboja (Plumeria acuminate), mengandung senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol, selain itu daunnya juga mengandung alkaloid. Tumbuhan ini mengandung fulvoplumierin, yang memperlihatkan daya mencegah pertumbuhan bakteri, selain itu juga mengandung minyak atsiri antara lain geraniol, farsenol, sitronelol, fenetilalkohol dan linalool. Kulit batang kamboja mengandung flavonoid, alkaloid, polifenol. yang bisa menyembuhkan luka bakar. (Arief Hariana. 2008).
Berdasarkan fenomena pengalaman dari masyarakat Desa Kapong Kecamatan Batumarmar Kabupaten Pamekasan Madura mengenai tanaman kamboja (Plumeria acuminate),yang dipercaya masyarakat dan diyakini sebagai tanaman yang mempunyai bermacam macam kegunaannya juga sebagai obat yang dapat penyembuhkan luka bakar. Bahkan dari beberapa mayarakat Desa Kapong Kecamatan Batumarmar Kabupaten Pamekasan Madura yang memanfaatkan Daun Kamboja (Plumeria acuminate)sebagai obat luka. Maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Pemberian Daun Kamboja (Plumeria acuminate)Terhadap Penyembuhan Luka Bakar Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus strain Wistar)”. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan obyek tikus putih (Rattus norvegicus strain Wistar) karena didalam kandungan tanaman kamboja (Plumeria acuminate) terdapat zat pahit beracun. Sehingga peneliti tidak mau mengambil resiko
Metode
Penelitian ini menggunakan true experimental design, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan kepada beberapa kelompok perlakuan dan satu kelompok kontrol. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi Universitas Brawijaya Malang selama 10 hari. Subyek penelitian adalah tikus putih betina (rattus novergicus strain wistar) sebanyak 20 ekor tikus putih betina yang dibagi menjadi 4 kelompok, 3 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol (menggunakan NaCl) dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data menggunakan observasi dengan perlakuan ekstrak daun kamboja pada luka dengan dosis yang sama. Kriteria Inklusi pada Penelitian ini adalah: - Berat Badan tikus antara 200 - 250 gram - Umur tikus 3 bulan - Kondisi tikus dalam keadaan sehat - Tikus dengn luka bakar derajat 1
HASIL
Dari penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti pada kelompok perlakuan didapatkan hasil yang berbeda beda, dengan perlakuan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate), proses perlakuan yaitu dengan luka bakar dibersihkan terlebih dahulu dengan kasa steril, kemudian diberikan ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate), pada perlakuan ini tiap luka diberi dosis 2 g untuk 1x perlakuan, kemudian luka ditutup dengan 1 kasa steril dan kemudian di plester. Kelompok A, dengan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate)dosis 2 g diberikan 1 x sehari. Pada hari ke 10 nampak ada 2sampel tikus yang mendekatisembuh, dan ada 3 sampel tikus yang tidak sembuh, tetapi kulitnya tidak kembali secara anatomis, hal ini dikarenakan luka bakar membutuhkan keteraturan perawatan dan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate). Kelompok B, dengan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) dosis 2 g diberikan 2x sehari. Pada hari ke 10 nampak ada 2 sampel tikus yang sembuh, dan ada 2 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang tidak sembuh, tetapi ada 1 sampel tikus yang kulitnya kembali secara anatomis. Sedangkan pada kelompok C dengan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) dosis 2 g diberikan 3 x sehari. Pada hari ke 10 nampak ada 4 sampel tikus yang sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang tidak smbuh, dan 3 sampel tikus kulitnya kembali secara anatomis dan 2 sampel tikus kulitnya tidak kembali secara anatomis.
Khasiat kamboja secara medis belum dibuktikan, tetapi secara empirik sudah banyak digunakan sebagai bahan obat. Seluruh bagian tanaman kamboja, seperti kulit batang, batang, daun, akar, dan bunganya memiliki khasiat obat.
Sehingga ada keselarasan antara teori dan fakta bahwa didalam kandungan daun kamboja dapat digunakan untuk menyembuhkan luka bakar derajat 1 (area epidermis).
Pada kelompok kontrol, menunjukkan bahwa pada hari pertama sampai hari ke 10, dari ke 5 sampel pada kelompok kontrol hanya 1 sampel tikus yang mendekati sembuh dan kulit tidak kembali secara anatomis, dan ada 4 sampel tikus yang tidak sembuh.Sampel pada kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakuan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate), tetapi kelompok kontrol mendapatkan perawatan luka pada pagi hari menggunakan NaCL 0,9%, dan setelah dilakukan perawatan luka, kemudian juga di perban dengan menggunakan 1 kasa steril, dan di plaster, nampak 1 sampel yangmendekati sembuh, hal ini dikarenakan kurangnya keteraturan perawatan luka bakar pada kelompok kontrol.
Berdasarkan hasil observasi pada kelompok kontrol didapatkan hasil pada proses pnyembuhan luka bakar mulai dari hari 1 sampai hari ke 3, ke 5 sampel masuk pada indikator kulit kemerahan, eksudat tampak kering, luka tidak bau, jaringan nekrotik, hari ke 4 sampai hari ke 8, ke 5 sampel masuk pada indikator eksudat tampak kering, luka tidak bau, jaringan nekrotik, tepi luka kering, hari ke 9, ke 5 sampel masuk pada indikator kulit kemerahan, luka tidak bau, tepi luka kering, dan hari ke 10, sampel tikus 1 masuk pada indikator kulit kemerahan, eksudat tampak kering, luka tidak bau, tepi luka kering, sampel tikus 2 masuk pada indikator kulit kemerahan, luka tidak bau, tepi luka kering, sampel tikus 3 masuk pada indikator kulit kemerahan, luka tidak bau, tepi luka kering, sampel tikus 4 masuk pada indikator kulit kemerahan, luka tidak bau, tepi luka kering sampel tikus 5 masuk pada indikator luka tidak bau, tepi luka kering, Lama proses penyembuhan luka bakar ini juga dipengaruhi oleh faktor pola tikus yang sering menggigit balutan kasa sehingga ada sebagian sampel yang terlepas balutannya hal ini mengakibatkan luka menjadi mudah terinfeksi. Selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi luka yang lembab sehingga proses penyembuhan luka menjadi lama. Pemberian NaCL pada luka kurang efektif, dikarenakan NaCL hanya dapat membersihkan luka dari kuman agar tidak terinfeksi. Sedangkan fungsi khusus di bidang kesehatan terutama karena adanya garam nacl adalah menurunkan gejala inflamasi (peradangan), serta menyembuhkan infeksi.
Dari 4 kelompok diatas luka tidak sembuh 100% dikarenakan, kasa pada luka sering terlepas sehingga bakteri atau kuman cepat masuk, kelakuan tikus yang sering menggigiti bagian tubuhnya yang terdapat luka dan luka bakar drajat 1 tidak bisa sembuh sempurna melainkan akan sembuh dengan jaringan kemerahan bila tersinggung akan berdarah.
Hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) terhadap proses penyembuhan luka bakar menyebabkan perbedaan penyembuhan luka, tampak perbedaan pada setiap kelompok menunjukkan hasil yang berbeda penyembuhan luka bakar secara signifikan maupun secara deskriptif tampak bahwa penyembuhan luka pada kelompok perlakuan C, lebih banyak sampel yang telah sembuh hampir sembuh 100%, dari pada kelompok perlakuan A, B, maupun kelompok kontrol, pada hari ke 10. Hal yang membedakan dari kedua kelompok kontrol dan kelompok perlakuan adalah faktor pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate), yang dalam dugaan bisa menyembuhkan luka bakar, dan ternyata hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) bisa menyembuhkan luka bakar.
Dengan kesimpulan penyembuhan luka bakar tidak cukup hanya dengan menggunakan daun kamboja (plumeria acuminate) saja. Tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu kondisi tubuh, gizi seimbang, usia muda lebih cepat sembuh dari pada usia tua, sterilitas luka bakar, pemilihan daun kamboja (plumeria acuminate) yang bagus, proses sterilitas pembuatan ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate). KESIMPULAN
Proses penyembuhan luka bakar pada perlakuan kelompok A nampak 2 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan 3 sampel tikus tidak sembuh. Pada perlakuan kelompok B nampak 2 sampel tikus yang sembuh, dan 2 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang tidak sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang kulitnya kembali secara anatomi. Pada peralakuan kelompok C, nampak 4 sampel tikus yang sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang tidak sembuh, dan ada 3 sampel tikus yang kulitnya kembali secara anatomi.
Proses penyembuhan luka bakar pada kelompok kontrol dari ke 5 sampel nampak 1 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan ada 4 sampel tikus yang tidak sembuh tetapi ke 5 sampel tikus kulitnya tidak kembali secara anatomi.
Didapatkan hasil p=0,019 (p value ≤ α=0,05 ) berarti Ho ditolak dan minimal ada pengaruh yang signifikan pemberian daun kamboja (plumeria acuminate)terhadap proses penyembuhan luka bakar pada tikus putih selama 10 hari.
Oleh: Anies Nieke Purwanti1, H.A. Syukri Pasaribu2, Joko Sutrisno2
Latar Belakang: Hemodialisis (HD) sebagai salah satu tindakan / terapi pengganti ginjal pada pasien gagal ginjal stadium akhir merupakan tindakan penyelamat bagi pasien, adekuasi hemodialisis sampai saat ini masih menjadi masalah tersendiri, sebab hampir semua pasien masih mendapatkan nilai blood ureum nitrogen cukup tinggi setelah hemodialisa
Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh lama hemodialisis 4 jam (durasi 1 kali sesi HD) terhadap standar blood ureum nitrogen Pada pasien yang menjalani hemodialisa.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan pendekatan one short case study. Penelitian Ini dilaksanakan di ruang Hemodialisa RSUD Gambiran Kediri Pada Tanggal 1 – 30 September 2011. Subyek penelitian adalah pasien yang menjalani hemodialisa dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Jumlah sampel yang didapat sebanyaak 15 responden yang telah ditentukan berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi. Data dianalisis menggunakan Uji Paired Test.
Hasil: Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu keseluruhan responden yaitu 15 responden (100%) hasil BUN pre HD diatas 20 mg/dl yaitu nilai BUN 53-114 mg/dl dengan p value 0,345> α=0,05,hasil BUN post HD 15 orang (100%) hasil BUN diatas 20 mg/dl yaitu nilai BUN 27-57 mg/dl dengan p value 0,487. Hasil analisa tidak ada pengaruh lama hemodialisa 4 jam (durasi 1 kali sesi HD) terhadap rasio reduksi ureum (RRU) pada pasien yang menjalani hemodialisa reguler dikarenakan nlai ρ value 0, 764 > α: 0,05.
Kesimpulan: Rasio reduksi ureum yang adekuat pada post hemodialisisdisebabkan oleh beberapa faktor diantaranga durasi hemodialisa dalam satu minggu idealnya 3 kali hemodialisis dengan waktu 4 jam satu kali sesi hemodialisis, umur, penyakit penyerta, sumber daya manusia, akses vaskuler dan hasil laboratorium sangat berpengaruh terhadap keadekuatan hemodialisis.
Kata kunci : Lama Hemodialisis, Rasio Reduksi Ureum
Pendahuluan
Hemodialisis (HD) sebagai salah satu tindakan / terapi pengganti ginjal pada pasien gagal ginjal stadium akhir merupakan tindakan penyelamat bagi pasien, disamping cangkok ginjal dan Peritoneal Dialisis (PD) sebab pada pasien gagal ginjal stadium akhir atau Gagal Ginjal Terminal (GGT) dimana ginjal pasien sudah tidak berfungsi, akan timbul berbagai keluhan dan kelainan fungsi tubuh, dan bila tidak dilakukan Terapi Pengganti Ginjal (TPG) maka pasien akan meninggal dunia dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Berdasar data dari Instalasi Hemodialisis RSUD Gambiran Kediri pada bulan April tahun 2011 terdapat sekitar 75 pasien Gagal Ginjal Terminal (GGT) yang menjalani hemodalisis regular dengan frekuensi rata-rata 2 kali seminggu (4-5 jam) yang dibagi dalam 8 pasien setiap kali hemodialisa dengan pelayanan 3 kali shift.
Terdapat beberapa aspek yang dapat mempengaruhi adekuasi hemodialisis antara lain : sumber daya manusia, pemakaian dialiser (single use-reuse, high efficiency – low efficiency, jenis membrane dialiser), durasi/lamanya hemodialisism resirkulasi, jenis dialisat dan lain-lain. Dengan memperhatikan dan mengeliminasi faktor-faktor penyebab under dialysis (dialysis yang tidak adekuat) diharapkan tindakan dialysis yang dilakukan dapat lebih adekuat sehingga kualitas hidup pasien bisa lebih baik, produktif dan angka harapan hidup meningkat.
Dari uraian tersebut diatas peneliti merasa tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan judul “Pengaruh Lama Hemodialisis 4 jam (Durasi 1 kali sesi hemodialisis ) Terhadap Standar Blood Ureum Nitrogen (BUN) Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis Reguler di Instalasi Hemodialisis RSUD Gambiran Kediri” yang mudah-mudahan dapat memberi jawaban dan solusi atas permasalahan tersebut.
Metode
Dalam penelitian ini rancangan yang digunakan adalah Rancangan one group pra-post test design. Dalam rancangan ini kelompok subjek diobservasi sebelum dilakukan intervensi atau perlakuan, kemudian diobservasi lagi setelah intervensi. Rancangan ini termasuk eksperimen, ciri tipe ini adalah mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek. Populasinya dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani hemodialisis di Instalasi Hemodialaisis Rumah Sakit Umum Daerah Gambiran Kediri. Tehnik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, dengan sampel sebanyak 15 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dam esklusi dari tanggal 1 – 30 September 2011. Dimana kriteria inklusi adalah:
1)Pasien yang menjalani hemodialisis 2 kali seminggu
2)Pasien yang menjalani hemodialisis dengan durasi 1 kali sesi hemodialisis 4 jam.
3)Pasien yang menjalani hemodialisis dengan menggunakan dialiser 1-3 kali pemakaian.
4)Pasien dengan akses vaskuler yang baik / akses vaskuler lancar.
5)Bersedia menjadi responden.
6)Pasien yang menjalani hemodialisis dengan dialiser FB 15O TGA.
7)Pasien yang menjalani hemodialisis dengan Quick Blood (QB) ≤ 200 ml/ menit
Varibel independen lama hemodialisa 4 jam (durasi 1 kali sesi HD) dan variabel dependen standar blood ureum nitrogen,
Pembahasan
Pengaruh lama hemodialisa terhadap Blood Ureum Nitrogen (BUN)
Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan nilai signifikasidengan menggunakan uji t paired diketahui nilai nilai p - value 0,000. Signifikasi hubungan menggunakan nilai p - value < α dengan tingkat kesalahan 0,05. Karena nilai p –value 0,000 < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa ada pengaruh lama hemodialisa 4 jam (durasi 1 kali sesi HD) terhadap standar blood ureum nitrogen (BUN) pada pasien yang menjalani hemodialisa reguler di Ruang Hemodialisa RSUD Gambiran Kediri tanggal 1-30 September 2011.
Keadekuatan atau adekuasi hemodialisis di Indonesia masih mendapatkan nilai adekuasi dibawah standar minimal dengan nilai Blood ureum nitrogen (BUN) > 20 mg/dL sedangkan National Kidney Foundation-Dialysis Outcome Quality Initiative (NKF-DOQI) memberi batasan bahwa HD harus dilakukan dengan BUN > 20 mg/dL(Gatot, 2003).
Adekuasi hemodialisis ini dapat diketahui dengan beberapa cara, antara lain dengan menggunakan pemeriksaan Blood Ureum Nitrogen (BUN), cara ini paling sederhana dan paling sering digunakan dibanding dengan cara yang lain. Masalah adekuasi hemodilisis akan membawa dampak yang sangat besar, seperti kualitas hidup yang rendah, tingginya tingkat ketergantungan terhadap orang lain, produktifitas menurun, angka kematian yang tinggi disamping kerugian materi yang besar pula (Gatot, 2003).Menurut Palmer (1999)dalam Effendi (2010), meningkatkan Quick blood (Qb) sampai 400 ml/menit atau lebih dan meningkatkan Quick dialysate (Qd) sampai 800 ml/menit merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan adekuasi hemodialisis.
Sumber daya manusia juga sangat berpengaruh terhadap keadekuatan hemodialisa. Kebanyakan pasien yang sudah dalam keadaan usia dewasa lanjut yang banyak sekali keterbatasan tentunya akan memperburuk keadaan, kesenjangan teori dengan hasil penelitian kemungkinan karena banyak sekali faktor yang berpengaruh diantaranya kemungkinan karena dialisernya karena dialiser merupakan ginjal buatan dimana tempat berlangsung proses hemodialisa jika terdapat trombus atau bekuan darah dalam membran ini dapat mengurangi luas permukaan dialiser disertai penurunan klirens dan kemampuan membuang cairan sehingga dialiser ini sebelum digunakan ke pasien harus benar-benar dicek secara rutin dan akurat fungsinya karena jika ada sedikit saja gangguan pada dialiser ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap hasil akhir dari hemodialisa, selain itu kemungkinan juga adanya faktor akses vaskuler, seringnya penusukan pada vena yang sama dalam jangka waktu yang lama menyebabkan vena menjadi rapuh dan berkurang fungsinya tentunya hal ini juga dapat menyebabkan kelancaran proses hemodialisa, ketidakefektifan ini memperburuk keadekuatan hasil hemodialisa walaupun pasien telah menjalani hemodialisa rutin dengan durasi yang tepat setiap sesinya.
Hidayat, A.A. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Tehnik Analisis Data, Jakarta, Salemba Madika
Indonesian Nephrology Nurse Association (PPGII) Meeting and Symposium, 28 -30 November 2008, Hotel Horison Bandung, Buku Program Abstrak dan Makalah Lengkap, Simposium Perhimpunan Perawat Ginjal Intensif Indonesia, Bandung - tidak dipublikasikan
Indonesian Nephrology Nurse Association / PPGII. (2010). 2nd Report of Indonesian Renal Registry 2009, Bandung - tidak dipublikasikan
Luknis, Sabri. Hastono, Sutanto Priyo. (2008). Statistik Kesehatan. Edisi Revisi, Jakarta, Rajawali Pers
Notoatmojo, Soekidjo, Dr. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi, Jakarta, Rineka Cipta
Nurrsalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Panduan Skripsi, Tesis dan Metode Penelitian Keperawatan, Jakarta, Salemba Medika
Pelatihan Perawat Mahir Hemodialisa. (2003). Instalasi Hemodialisis RSUD Dr. Soetomo, Surabaya - tidak dipublikasikan
Peatihan Perawat Mahir Hemodialisa. (2010). Instalasi Hemodialisis RSUD Dr. Saiful Anwar, Malang - tidak dipublikasikan
Perhimpunan Nefrologi Indonesia / Pernefri. (2003). Konsensus Dialisis, Jakarta - tidak dipublikasikan
Pertemuan Tahunan Nasional Perhimpunan Perawat Ginjal Intensif Indonesia (PPGII), 6-8 November 2009, Hotel Java Paragon, Buku Acara dan Makalah, Surabaya - tidak dipublikasikan
Sandjaja dan Herijanto, Albertus. (2006). Panduan Penelitian, Jakarta, Prestasi Pustaka
Sinar Roda Utama. (2003). Pengenalan Umum Water Treatment dengan Reserve Osmosis System dan Mesin Hemodialisis, Surabaya - tidak dipublikasikan
Sukandar, Enday. (2006). Gagal Ginjal dan Panduan Terapi Dialisis, Bandung, Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNPAD / RS. Dr. Hasan Sadikin
Oleh : Wiwik Endang Susilowati1,Yuly Peristyowati2, Prima Dewi Kusumawati2
Latar Belakang : Musik terutama musik klasik sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Inteligent Quotient) dan EQ (Emotional Quotient). Anak autis mengalami gangguan perkembangan yang kompleks sehingga mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku dan kecerdasan emosionalnya. Tujuan Penelitian : Mengetahui pengaruh terapi musik klasik terhadap kecerdasan emosi pada anak autis. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini menggunakan desain Pre-Eksperiment, One-group pra-post test design dengan populasi seluruh siswa siswi di Pusat Terapi Autis Cahaya Ananda Kepatihan Tulungagung. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi sebanyak 16 responden dengan teknik pengambilan sampling secara TotalSampling. Waktu penelitian dimulai tanggal 10 Maret - 30 Maret 2012. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan lembar observasi. Data yang telah terkumpul diolah dengan uji statistik Wilcoxon dengan kemaknaan α < 0,05. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan kecerdasan emosional anak autis yaitu kecerdasan emosional sebelum terapi musik sebagian besar adalah cukup yaitu 8 responden (50 %) dari 16 responden, dan sesudah terapi musik sebagian besar adalah cukup yaitu 7 responden (43%) dari 16 responden. Kesimpulan : Ada pengaruh terapi musik klasik terhadap kecerdasan emosional anak autis dengan uji wilcoxon dengan hasil p-value = 0,007 yang berarti kurang dari 0,05, sehingga tolak H0, yang berarti ada pengaruh terapi musik klasik terhadap kecerdasan emosi pada anak autis Kata Kunci : Terapi musik klasik, kecerdasan emosional, anak autis
Pendahuluan
Musik terutama musik klasik sangat mempengaruhi perkembanngan IQ (Intelegent Quotient) dan EQ (Emotional Quotient). Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik (Christanday,2007).IQ menyumbang paling banyak 20% bagi kesuksesan hidup seseorang, sedangkan 80% ditentukan oleh Emotional Quotient (EQ). Kecerdasan akademis praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan hidup. Banyak bukti yang memperlihatkan bahwa orang yang secara emosional cakap mengetahui dan menangani perasaan mereka sendiri dengan baik, serta mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif, memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan (Anonymous, 2004). Kecerdasan emosi mencakup kemampuan-kemampuan yang berbeda, tetapi saling melengkapi, dengan demikian pola asuh yang diterapkan pada anak harus mencakup hal-hal yang mendukung terciptanya peningkatan kecerdasan emosi pada anak, pemberian pola asuh yang baik akan sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi pada anak dan perkembangan sosial anak, oleh sebab itu seorang ayah juga wajib berperan aktif dalam memberikan asuhan pada anak. Autisme adalah sebuah sindrom gangguan perkembangan system syaraf pusat yang ditemukan pada sejumlah anak ketika masa kanak – kanak hingga masa sesudahnnya (Purwati, 2007). Salah satu penyebab autis dapat dikarenakan adanya kelainan pada otak anak, yang berhubungan dengan jumlah sel syaraf, baik itu selama kehamilan maupun setelah persalinan, kemudian juga disebabkan adanya kongenital Rubella, Herpez SimplexEnchepalitis, dan Cytomegalovirus Infection (Kurniasih, 2002). Prevalensi autisme pada anak berkisar 2 – 5 penderita dari 10.000 anak – anak dibawah 12 tahun. Sedangkan prevalensi anak autis disertai dengan keterbelakangan mental perbandinganya meningkat, sebanyak 20 pasien dari 10.000 anak (Pratiwi, 2007). Adapun rasio perbandingannya 3 anak laki – laki dan 1 anak perempuan (3 : 1). Dengan kata lain, anak laki – laki lebih rentan menyandang sindrom autisme dibandingkan anak perempuan. Bahkan diprediksikan oleh para ahli bahwa kuantitas anak autisme pada tahun 2010 akan mencapai 60% dari keseluruhan populasi anak di seluruh dunia (Purwati, 2007). Dari hasil studi pendahuluan tentang pengukuran kecerdasan emosi anak autis yang dilakukan di Pusat Terapi Autis Cahaya Ananda di Kelurahan Kepatihan, Tulungagung pada tanggal 4 Desember 2011 terhadap 3 anak autis. Ditemukan 2 anak mempunyai kecerdasan emosisedang dan 1 anak mempunyai kecerdasan emosirendah . Hal ini membuktikan bahwa rata - rata anak autis mengalami gangguan kecerdasan emosi. Anak Autisme mengalami gangguan perkembangan yang kompleks yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak, sehingga mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan sosialisasi, sensori, dan belajar (Ginanjar, 2001). Anak autisme sering terisolasi dari lingkungan dan hidup di dunianya sendiri, tidak bisa berbicara secara normal, berkomunikasi, berhubungan dengan orang lain dan belajar berinteraksi dengan seseorang. Penyandang autisme pada umumnya tidak mampu mengembangkan permainan yang kreatif dan imajinatif. Oleh karena itu mereka membutuhkan stimulasi agar bisa mengembangkan daya kecerdasan emosidan imajinasinya untuk dapat bersosialisasi dengan orang lain (Pratiwi, 2007). Terapi autisme menurut Tjin Wiguna (2002) yang ditulis oleh Astuti (2007) adalah penatalaksanaan anak dengan gangguan autisme secara terstruktur dan berkesinambungan untuk mengurangi masalah perilaku dan untuk meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan anak sesuai atau paling sedikit mendekati anak seusianya dan bersifat multi disiplin yang meliputi: (1) terapi perilaku berupa ABA (Applied Behaviour Analysis), (2) terapi biomedik (medikamentosa), (3) terapi tambahan lainnya yaitu, terapi wicara, terapi sensory integration, terapi musik, terapi diet, dll . Menurut Astuti (2007) juga menemukan bahwa musik dapat, memperbaiki kepercayaan diri, mengembangkan ketrampilan sosial, menaikkan perkembangan motorik persepsi dan perkembangan psikomotor. Pendapat ini didukung oleh penelitian yang dilakukan ahli saraf dari Universitas Harvard, Mark Tramo, (2006). Ia mengatakan, di dalam otak terdiri dari jutaan neuron yang menyebar di otak akan menjadi aktif saat mendengarkan musik. Rangsangan neuron itulah yang meningkatkan kecerdasan. Maka dari itu, diperlukan suatu kerjasama antara tenaga pendidik, tenaga medis, termasuk perawat serta psikiatri atau psikolog agar dapat mendeteksi dini dan untuk penanganan secara cepat dan tepat bagi para penderita autis (Pratiwi, 2007)
Metode
Jenis penelitian ini adalah Pra Eksperimental Pre Post Test Design dengan Seluruh siswa – siswi autis di Pusat Terapi Autis Cahaya Ananda yang didiagnosa autis murni, berjumlah 16 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah Seluruh siswa – siswi autis di Pusat Terapi Autis Cahaya Ananda yang didiagnosa autis murni, berjumlah 16 orang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik total sampling, yaitutehnik penentuan sampel yang di gunakan bila jumlah populasi relative kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil (Sugiyono, 2006)
Lokasi penelitian dilaksanakan di Lokasi dalam penelitian ini di lakukan di di Pusat Terapi Autis Cahaya Ananda di Kelurahan Kepatihan, Tulungagung. Waktu penelitian ini di lakukan pada tanggal 10 Maret 2012 sampai dengan 30 Maret 2012. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini yaitu alat pemutar musik dari perangkat tape recorder dan lembar observasi kecerdasan untuk mengukur tingkat kecerdasan emosional anak. Pengumpulan data dilakukan dengan mengajukan surat permohonan untuk mendapatkan rekomendasi dari Ka-Prodi S1 Keperawatan STIKES Surya Mitra Husada - Kediri dan permintaan ijin kepada Kepala Pusat Terapi Autis Cahaya Ananda di Kelurahan Kepatihan Tulungagung. Setelah data terkumpul dengan observasi, selanjutnya dilakukan pengolahan data, yang meliputi pengecekan kelengkapan data (editing), pemberian nilai (scoring), pemberian kode (coding) dan tabulasi data (tabulating). Data kemudian dianalisa dengan menggunakan uji Wilcoxon.
Hasil
Kecerdasan emosional anak autis setelah terapi musik :
Kecerdasan Emosional
Jumlah
Prosentase
Kurang
Cukup
Baik
3
7
6
19 %
43 %
38 %
Total
16
100 %
Karakteristik Responden Berdasarkan Derajat Autis :
Derajat Autisme
Jumlah
Prosentase
Ringan
Sedang
Berat
10
3
3
62 %
19 %
19 %
Total
16
100 %
Uji statistik dilakukan dengan menggunakan uji wilcoxon
Berdasarkan hasil uji statistik Wilcoxon dengan program SPSS for Windows 16.0, diketahui bahwa nilai p-value adalah 0,007, yang berarti kurang dari0,05, sehingga tolak H0 yang berarti ada pengaruh terapi musik klasik terhadap kecerdasan emosi pada anak autis di Pusat Terapi Autis Cahaya Ananda Kepatihan Tulungagung. Hal ini didukung oleh data tabulasi silang sebelum terapi musik klasik dengan sesudah terapi musik klasik, dan diketahui bahwapula terdapat 5 responden yang sebelum terapi musik memiliki kecerdasan emosional yang kurang dan sesudah terapi musik memiliki kecerdasan emosional yang cukup, serta 5 responden yang sebelum sebelum terapi musik memiliki kecerdasan emosional yang cukup dan sesudah terapi musik memiliki kecerdasan emosional yang baik. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan penemuan para peneliti bahwa musik dapat meningkatkan kreativitas, memperbaiki kepercayaan diri, mengembangkan ketrampilan sosial, menaikkan perkembangan motorik persepsi dan perkembangan psikomotor (Astuti,2007). Pendapat ini didukung oleh penelitian yang dilakukan ahli saraf dari Universitas Harvard, Mark Tramo , M.D (2006) yang ditulis oleh Pratiwi, 2007, ia mengatakan bahwa di dalam otak kita yang terdiri dari jutaan neuron yang menyebar di otak akan menjadi aktif saat mendengarkan musik. Hal inilah yang menyebabkan aliran impuls listrik antar selberangsur – angsur kembali normal, sehingga terjadi keseimbangan neurotransmitter yang membantu anak untuk berimajinatif dalam rangka meningkatkan kreativitas.lewat tulisan-tulisannya. Ia percaya bahwa objek dari terapi Menurut Margaret Anderton (2002), seorang guru piano berkebangsaan Inggris, yang mengemukakan tentang efek alat musik (khusus untuk pasien dengan kendala psikologis) karena hasil penelitiannya menunjukkan bahwa timbre (warna suara) musik dapat menimbulkan efek terapeutik. Berdasarkan uraian di atas peneliti berpendapat bahwa terdapat peningkatan kecerdasan emosional anak autis melalui terapi musik klasik, dimana terdapat 5 responden yang sebelum terapi musik memiliki kecerdasan emosional yang kurang dan sesudah terapi musik memiliki kecerdasan emosional yang cukup, serta 5 responden yang sebelum sebelum terapi musik memiliki kecerdasan emosional yang cukup dan sesudah terapi musik memiliki kecerdasan emosional yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa terapi musik klasik bisa meningkatkan kecerdasan emosional pada anak autis, baik dalam aspek intra pribadi (mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri, serta memotivasi diri) maupun aspek antar pribadi (memahami emosi orang lain / empati dan membina hubungan dengan orang lain). Hal ini merupakan suatu kondisi yang harus dilakukan secara rutin dan kontinyu agar didapatkan hasil yang maksimal yang bisa membantu perkembangan anak autis selanjutnya
Kesimpulan
Berdasarkan hasil uji statistik Wilcoxon diketahui nilai p-value adalah 0,007, yang berarti kurang dari 0,05, sehingga tolak H0 yang berarti ada pengaruh terapi musik klasik terhadap kecerdasan emosi pada anak autis di Pusat Terapi Autis Cahaya Ananda Kepatihan Tulungagung. Dalam melakukan penelitian ini peneliti memiliki beberapa keterbatasan yaitu:
1.Karakteristik responden yang didapatkan penulis hanya sebatas berdasarkan umur dan
jenis kelamin, masih banyak karakteristik lain yang harusnya ditampilkan oleh peneliti,
terutama yang berhubungan dengan penyebab terjadinya autisme.
2.Waktu penelitian ini hanya selama 2 minggu, hal ini kurang sesuai dengan prinsip terapi pada anak autis yang membutuhkan proses yang lama, sehingga perlu dilakukan penelitian yang serupa dalam waktu yang lama.
3.Tidak adanya kelompok kontrol dalam penelitian ini.
4. Pemberian terapi musik tidak dibedakan sesuai dengan derajat autis (ringan, sedang, berat) sehingga ada yang tidak mengalami peningkatan derajat autis
Referensi
Anthony,Spawnthe.2003. Manfaat Musik, hhtp/www.partikelwebgaul.com/, Diakses 6 September 2007.
Anonymous , 2004. Mempersiapkan IQ dan EQ Anak, Percuma IQ Tinggi Jika Tak Diimbangi EQ, (Online), (http://www.pikiran-rakyat.com, diakses 19 Desember 2011).
Arikunto, Suharsimi.2002.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta; Jakarta.
Hadis, Abdul. 2006. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik. Alfabeta; Bandung.
Halim, Samuel., 2007. Efek Mozart dan Terapi Musik Dalam Dunia Kesehatan.Hhtp//www.tempo.co.id/medika, Diakses 5 September 2011.
Hidayat, Teddy. 2003. Musik Memiliki Pengaruh Dalam Kepribadian.
Holmes, Clive. 2003. Musik Terapi. http://kompas.com. Diakses 6 september 2011.
Masra, Ferizal. 2005. Autisme : Gangguan Perkembangan Anak. http://www.waspadaonline. Diakses 12 Agustus 2011.
Maulana, Mirza. 2007. Anak Autis;Mendidik Anak Autis dan Gangguan Mental Lain Menuju Anak Cerdas dan Sehat. Katahati; Yogyakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta: Jakarta.
Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan, Edisi I, Salemba Medika, Jakarta.
Pandoe, Wing., 2006. Musik Terapi, hhtp//www.my.opera.com/paw, Diakses 7 September 2011.
Pratiwi, E.S. 2007. Penanganan Terpadu Anak Autisme. http://pikiranrakyat.com. Diakses 6 September 2011.
Santosa, singgih. 2003. Mengatasi Berbagai Masalah Statistik Dengan SPSS Versi 11,5. PT Alex Media Komputindo; Jakarta.
Setiadi. 2007. Konsep – konsep penerapan Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta; Yogjakarta.
Sugiyono. 2006. Statistik Untuk Penelitian. Alfabet; Bandung