Kamis, 07 Agustus 2014

INTEGRATED MANAGEMENT CHILDHOOD OF ILLNESS

Integrated Management childhood of illness


IMCI/MTBS

Singkatan dari "Manajemen Terpadu Balita Sakit/Integrated Management Childhood of Illness".
ICATT : IMCI Computerized Adaptation and Training Tool

Mempelajari Tentang :
  • Cara menangani balita sakit
  • Cara memperhatikan semua masalah dan kebutuhan anak secara terpadu.
  • Cara memberi asuhan dasar pada bayi muda, untuk memastikan agar bayi muda segera dapat beradaptasi dengan cepat dan aman

PRINSIP DARI PEDOMAN MANAJEMEN TERPADU KASUS KLINIS

Pedoman MTBS didasari oleh prinsip berikut:
  • Semua balita sakit umur sampai 5 tahun diperiksa untuk tanda bahaya umum dan semua bayi muda diperiksa untuk tanda-tanda penyakit sangat berat. Tanda-tanda ini menunjukkan perlunya rujukan segera atau dirawat di rumah sakit.
  • Anak dan bayi kemudian dinilai untuk gejala utama. Untuk anak yang lebih tua, gejala utama termasuk batuk atau kesulitan bernapas, diare, demam, dan infeksi telinga. Untuk bayi muda, gejala utama meliputi infeksi bakteri lokal, diare, dan ikterus. Sebagai tambahan, semua anak secara rutin dinilai status gizi dan imunisasinya serta masalah potensial lainnya.
  • Hanya menggunakan tanda-tanda klinis dalam jumlah terbatas, dipilih berdasarkan sensitivitasnya dan spesivisitasnya untuk mendeteksi penyakit.
  • Suatu kombinasi dari tanda-tanda individual mengarah pada satu klasifikasi anak dalam satu atau lebih kelompok gejala, dan bukan satu diagnosa. Klasifikasi penyakit didasarkan pada sistem triase dengan kode warna: “Merah muda“ menunjukkan perlunya rujukan segera sedangkan “kuning“ menunjukkan diperlukannya pengobatan spesifik pada pasien rawat jalan, dan “hijau“ menunjukkan perawatan di rumah.
  • Prosedur tatalaksana dari MTBS menggunakan obat-obat esensial dengan jumlah terbatas dan mendorong partisipasi aktif dari pengasuh anak dalam menangani anak.
  • Suatu komponen esensial dari MTBS adalah konseling bagi ibu/pengasuh anak berkaitan dengan perawatan di rumah, pemberian makan dan cairan yang tepat, dan kapan harus kembali ke klinik, dengan segera atau untuk tindak lanjut.

TATA LAKSANA BALITA SAKIT UMUR 2 BLN – 5 TH

1.  Penilaian dan klasifikasi anak

Menanyakan kepada ibu tentang masalah anak: 

- Beberapa teknik sederhana akan membantu anda agar lebih efektif pada saat menghadapi ibu dan anaknya yang sakit.
- Sambut ibu dengan baik tanpa terburu-buru dan mintalah ibu untuk duduk bersama anaknya.
- Upayakan untuk
  • Menghindari penggunaan kata yang menghakimi ibu dan anak seperti “salah“ atau “jelek“
  • Duduk dengan kepala anda sejajar dengan kepala ibu
  • Melihat ibu dan memberi perhatian saat ibu berbicara
  • Menghilangkan halangan (meja atau buku) antara anda dan ibu
  • Membuat ibu merasa bahwa anda punya waktu untuk mendengarkan

- Periksa apakah berat badan dan suhu badan anak sudah dicatat. Jika belum, tunggu sampai setelah anda membuat penilaian dan klasifikasi gejala utama anak. Selanjutnya timbang anak dan ukur suhunya.
- Jangan melepas baju anak atau mengganggu anak pada tahap ini.
- Tanyakan kepada ibu apa saja masalah anak. Alasan penting diajukannya pertanyaan ini adalah untuk mengawali berkomunikasi yang baik dengan ibu. Komunikasi yang baik memberikan jaminan kepada ibu bahwa anaknya akan mendapatkan perawatan yang baik. Pada bagian akhir dari kunjungan, anda akan mengajari dan menasihati ibu tentang perawatan anaknya di rumah. Hal ini akan mudah bagi anda bila sejak awal anda mampu berkomunikasi secara baik dengan ibu
- Tentukan apakah kali ini merupakan kunjungan pertama atau merupakan kunjungan ulang untuk masalah tersebut.
- Jika merupakan kunjungan pertama dari episode penyakit tersebut, berarti anda perlu mengikuti prosedur tatalaksana kasus dengan MTBS untuk menilai dan mengklasifikasikan anak.
- Jika anak telah datang beberapa hari sebelumnya untuk penyakit yang sama, berarti merupakan kunjungan ulang. Tujuan kunjungan ulang adalah untuk mengetahui apakah pengobatan yang diberikan saat kunjungan pertama memberikan hasil. Jika keadaan anak tidak membaik atau keadaannya memburuk, mungkin anda perlu merujuk anak atau mengganti pengobatannya

Memeriksa tanda bahaya umum

Berikut ini tanda bahaya umum pada anak kecil:
1- Anak tidak bisa minum atau menyusu
2- Anak memuntahkan semuanya
3- Anak kejang selama sakit ini atau kejang saat ini
4- Anak letargis atau tidak sadar

Menilai 4 gejala utama:

1. Batuk atau sukar bernapas (Tarikan dinding dada kedalam, Stridor (periksa saat menarik nafas)) 





2. Diare = BAB Cair ... 3 kali atau lebih dalam 24 jam, Lebih sering terjadi pada bayi umur di bawah 6 bulan yang mendapat susu sapi atau susu formula. Buang air besar yang sering tapi normal bukanlah diare.    §  Diare cair akut
Diare persisten : selama 14 hari atau lebih, dapat menimbulkan masalah gizi yang mempunyai kontribusi terhadap kematian pada anak dengan diare.
Disenteri atau diare berdarah menyebabkan dehidrasi dan bisa menyebabkan kurang gizi. Penyebab paling sering dari disenteri adalah bakteri Shigella. Disenteri amuba jarang terjadi pada anak kecil. Seorang anak bisa menderita diare cair dan disenteri.
















    3. Demam








    4. Masalah telinga




    Lain-lain (Gizi/Anemia, Vitamin, Imunisasi)

    2. Menentukan tindakan pada anak
    • Suatu klasifikasi pada lajur merah muda berarti anak membutuhkan perhatian dan rujukan segera atau perlu dirawat inap. Ini merupakan klasifikasi berat.
    • Suatu klasifikasi pada lajur kuning berarti anak membutuhkan obat oral yang tepat atau pengobatan lain. Tindakan mencakup mengajari ibu cara memberi obat oral atau mengobati infeksi lokal di rumah. Anda juga harus menasihati ibu cara merawat anaknya di rumah dan kapan harus kembali untuk kunjungan ulang.
    • Suatu klasifikasi pada lajur hijau berarti anak tidak membutuhkan tindakan medis spesifik seperti antibiotik. Ajari ibu atau pengasuh tentang cara merawat anak di rumah. Sebagai contoh, anda mungkin perlu menasihati tentang cara memberi makan anak sakit atau memberi cairan untuk diare. Selanjutnya ajari ibu tentang tanda yang menunjukkan kapan anak harus kembali segera ke fasilitas kesehatan.

    TATA LAKSANA BAYI MUDA UMUR < 2 BLN

    • Proses penanganan bayi muda umur kurang dari 2 bulan atau anak sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun sangat mirip. Namun demikian bayi muda memiliki karakteristik khusus yang harus diperhatikan ketika anda melakukan klasifikasi penyakit mereka. Dalam hal ini, anda akan menilai, mengklasifikasi dan mengobati bayi muda sedikit berbeda dengan bayi yang berumur lebih tua atau pada anak balita.
    • MTBS tidak memasukkan tatalaksana kondisi yang berhubungan dengan kelahiran dan persalinan atau kondisi bayi baru lahir yang memerlukan tatalaksana khusus seperti asfiksia, sepsis akibat ketuban pecah dini atau infeksi lain dalam rahim, trauma lahir, atau kondisi akibat imaturitas


    1. Memastikan asuhan dasar untuk setiap bayi baru lahir


    2. Menilai dan mengklasifikasikan setiap bayi muda yang berada dalam penanganan anda

    3. Jika perlu, menentukan tindakan yang tepat, serta memberi pengobatan bayi muda sakit dan memberikan konseling bagi ibu
    4. Memastikan perawatan tindak lanjut yang tepat


      Share:

      Selasa, 28 Januari 2014

      Cara Memandirikan Anak

      Oleh : Ns. Heri Saputro

      Menjadi orang tua bukan hal yang mudah. Semua orang tua menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya, hingga terkadang sampai terlalu memanjakan anak tersebut walaupun dengan tujuan untuk kebaikan anak.
      Berikut penulis mencoba mengulas beberapa hal cara memandirikan anak dari berbagai sumber:

      1. Ajarkan anak untuk tidak melemparkan kesalahan. Saat anak jatuh tersandung batu/kursi, jangan mengatakan "Batunya nakal" lalu memukul batu/kursi tersebut. Hal ini dapat membuat anak akan menyalahkan pada benda/orang lain dimasa depan.
      2. Biarkan anak bermain dengan bebas dan menjelajahi dunianya. Jangan melarang melakukan hal tersebut, dengan itu anak akan mendapatkan pengalaman eksplorasi untuk dirinya. Dengan melarang justru akan membuat anak semakin penasaran dan akan membahayakan sebab anak akan mencari pelarian yang salah dikemudian hari. Pengawasan sangat diperlukan, bukan melarang anak. Biarkan anak jatuh ditanah, tersiram air dan lain-lain, selama tidak membahayakan (jika lecet, basah, tidak terlalu membahayakan)
      3. Bila anak terlibat masalah di sekolah atau tempat bermain, ketahui dahulu penyebabnya, ditanyakan dahulu pada orang-orang yang terlibat atau melihat kejadian, jangan langsung menyalahkan atau membela anak.
      4. Jika anak mengalami kekecewaan, tidak perlu orang tua langsung bertindak, tunggu beberapa waktu, latih anak untuk menyelesaikan masalahnya. Jika anak terus murung barulah orang tua berusaha membantu mencari jalan keluar.
      5. Biarkan anak belajar dari kesalahannya. Saat anak lupa tugas sekolahnya, sebaiknya orang tua tidak langsung turun ikut membantu anak/mengambil alih tugas anak. Bisa jadi anak akan dihukum oleh gurunya, tapi hal itu akan menjadi pelajaran bagi anak, di masa depan, anak tidak akan lalai lagi.
      6. Jangan membuat mainan/barang sebagai alat untuk membuat anak kembali senang atau bahagia. Hal ini sulit, tetapi harus dilakukan. Orang tua biasanya tidak tega melihat air mata anak, tetapi jika anak kalah dalam sebuah kompetisi, jangan langsung membelikannya mainan atau barang yang anak sukai. Anak akan berfikir semua masalah bisa diselesaikan secara mudah dengan materi.
      7. Pelajari cara ibu-ibu zaman dahulu  merawat anak. Ibu-Ibu zaman dahulu tidak serta merta datang hanya karena anaknya diomeli/dimarahi gurunya. Anak harus belajar menghadapi setiap masalahnya.
      8. Ajari anak untuk menyelesaikan masalah secara baik-baik terlebih dahulu. Jangan langsung mengadu ke orang tua. Katakan pada anak bahwa ibu dan ayah memang mencintai dan mendukungnya, namun anak juga harus bisa mencari jalan keluarnya sendiri.
      9. Sadarilah bahwa orang tua tidak selalu mampu mengubah keadaan. Jika anak terlambat bangun, apakah orang tua dapat mengundur jam masuk sekolah? Anak harus menghadapinya. Jadilah pendengar yang baik untuk anak, kadang anak tidak memerlukan bantuan orang tua. Anak hanya ingin punya orang yang selalu siap mendengarkan. Ternyata tindakan ini tanpa harus membuka mulut, tetapi sangat penting bagi anak. Berilah jalan keluar atau nasehat jika mereka meminta atau jika kita rasa saatnya memang tepat, selebihnya biarkan anak yang menanganinya.
      10. Jangan tergoda untuk selalu membantu anak atau mengendalikan kehidupannya. Ketika anak mengalami kesusahan, kelihatannya memang lebih mudah untuk langsung turun tangan dari pada membiarkannya belajar hikmah dari kejadian tersebut, tapi ketahuilah bahwa ini jauh lebih bermanfaat baginya dimasa depan. Anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bijaksana. Ia akan mampu membedakan yang baik dan buruk.
      11. Sadarilah bahwa kita tidak mungkin menciptakan lingkungan yang benar-benar aman untuk anak kita. Orang tua tidak mungkin melindungi anak terus menerus. Jika kita terlalu sering melindungi anak, bisa-bisa anak menjadi kurang pergaulan dan tidak tahu apa-apa. Anak justru tidak bisa bersaing dengan anak lain.
      12. Sebagai orang tua memang harus melindungi anak, merawat anak, akan tetapi sadarilah diri orang tua sendiri juga haruslah dirawat. Bagaimana akan menolong dan membantu anak jika akhirnya orang tuanya menjadi sakit dan anak menjadi terabaikan.
      13. Selalu libatkan partisipasi keluarga lain, seperti Kakek, nenek atau paman anak dalam mendidik anak.

      Semoga bermanfaat.
      Share:

      Sabtu, 26 Oktober 2013

      Perbedaan Desain Kualitatif Dengan Desain Kuantitatif


      Sebelum kita melakukan penelitian yang sebenarnya, kita perlu memahami dengan apa yang disebut sebagai Desain Penelitian. 
      Desain penelitian merupakan prosedur-prosedur yang digunakan oleh peneliti dalam pemilihan, pengumpulan dan analisis data secara keseluruhan. Dapat dikatakan bahwa desain penelitian merupakan proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara menyeluruh.
      Semua hal yang ada dalam penelitian digambarkan dengan adanya desain penelitian.

      Untuk Lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
       
      KARAKTERISTIKKUANTITATIFKUALITATIF
      DESAIN
      -Spesifik, rinci dan jelas
      -Ditentukan sejak awal
      -Menjadi pedoman langkah selanjutnya 
      -Umum
      -Fleksibel
      -Berkembang selama proses penelitian 
      TUJUAN
      -Menunjukkan hubungan antar variabel
      -Menguji teori
      -Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif
      -Menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif
      -Menemukan teori
      -Menggambarkan realitas yang kompleks
      -Memperoleh pemahaman makna
      TEKNIK PENGUMPULAN DATA
      -Kuesioner
      -Observasi dan wawancara terstruktur
      -Participant observation
      -In dept interview
      -Dokumentasi
      -Triangulasi
      INSTRUMEN PENELITIAN
      -Test, angket, wawancara terstruktur
      -Instrumen yang telah terstandar
      -Peneliti sebagai instrumen
      -Buku catatan, tape recorder, kamera, handycam, dll
      DATA
      -Kuantitatif
      -Hasil pengukuran variabel
      -Deskriptif/kualitatif
      -Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan/tindakan responden, dll
      SAMPEL
      -Besar
      -Representatif
      -Sedapat mungkin random
      -Ditentukan sejak awal
      -Kecil
      -Tidak representatif
      -Purposif, Snowball
      -Berkembang selama proses penelitian
      ANALISIS
      - Setelah selesai pengumpulan data
      -Deduktif
      -Menggunakan statistik untuk menguju hipotesis
      - Terus menerus sejak awal sampai akhir
      -Induktif
      -Mencari pola, model, tema, teori
      HUBUNGAN DENGAN RESPONDEN
      -Dibuat berjarak, bahkan tanpa kontak supoaya obyektif
      - Kedudukan peneliti lebih tinggi daripada responden
      -Jangka pendek sampain hipotesis dapat dibuktikan
      - Empati, akrab supaya memperoleh pemahaman yang mendalam
      -Kedudukan sama
      -Jangka lama sampai data jenuh, dapat ditemukan hipotesis atau teori
      USULAN DESAIN
      -Luas dan rinci
      -Literatur yang berhubungan dengan masalah dan variabel yang akan diteliti
      -Prosedur spesifik dan rinci langkah-langkahnya
      -Masalah dirumuskan dengan spsifik dan jelas
      -Hipotesis dirumuskan dengan jelas
      -Ditulis dengan rinci dan jelas sebelum terjun kelapangan
      -singkat, umum bersifat sementara
      -Literatur yang digunakan bersifat sementara. Tidak menjadi pegangan utama
      -Prosedur bersifat umum
      -Masalah bersifat sementara dan akan ditentukan setelah studi pendahulauan
      -Tidak dirumuskan hipotesis
      -Fokus penelitian ditentukan setelah diperoleh data awal
      KAPAN PENELITIAN DIANGGAP SELESAI
      Setelah semua kegiatan yang direncanakan dapat diselesaikan
      Setelah tidak ada yang dianggap baru/sudah jenuh
      KEPERCAYAAN TERHADAP HASIL PENELITIAN
      Pengujian validitas dan reliabilitan instrumen
       Pengujian kredibilitas, depenabilitas, proses dan hasil penelitian



      Bacaan Lainnya:

      Pengkajian Keperawatan Keluarga
      Peraturan Menteri Kesehatan No 17 Tentang Ijin Penyelenggaraan Praktek Keperawatan
      Meminimalkan perdarahan dengan traksi kateter pada pasien Post Op TURP
      Share:

      Senin, 14 Oktober 2013

      Trend Dan Issue Keperawatan Anak Terkait Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)


      Anak bukanlah miniatur dari orang dewasa, anak berbeda sifat, tingkah laku, keinginan yang berbeda dengan orang dewasa. Umumnya orang dewasa menganggap merawat anak sama dengan merawat dirinya sendiri dan perlakuannya pun tidak dibedakan.

      Dewasa ini banyak hal yang terjadi terkait masalah-masalah anak yang mengakibatkan/berefek pada fisik maupun psikologis anak yang disebabkan oleh orang tua, lingkungan ataupun keterbatasan/kelainan yang ditimbulkan faktor genetik/biologis anak tersebut. Salah satunya adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

      Anak dengan kebutuhan khusus adalah istilah klasifikasi untuk menerangkan tentang anak dan remaja yang secara fisik, psikologis, dan atau sosial mengalami masalah yang serius dan menetap (Mohon and Kibirige, 2004).
       Anak dengan kemampuan khusus atau anak dengan kemampuan berbeda
      mempunyai arti yang luas meliputi:
      a) Anak dengan kemampuan lebih dan
      b) Anak dengan kemampuan kurang
      Anak Berkebutuhan Khusus memiliki atau berisiko tinggi terjadinya :
      • Kondisi fisik kronik
      • Perkembangan perilaku dan kondisi emosional
      • Perkembangan yang menyimpang dari standar
      Anak Berkebutuhan Khusus membutuhkan layanan khusus baik jenis, kualitas, kuantitas maupun intensitas layanan kesehatan yang lebih.
      Anak Berkebutuhan Khusus juga memiliki atau berisiko tinggi terkait dengan masalah dilingkungan seperti pelecehan seksual terhadap anak dan penyalahgunaan zat adiktif/obat. (Katsner, 2004; Hommer, 2008)

      Secara global diperkirakan ada 370 juta penyandang disabilitas atau sekitar 7% populasi dunia di mana 80 juta di antaranya membutuhkan rehabilitasi dan dari jumlah tersebut hanya 10% saja yang mempunyai akses ke pelayanan tersebut (WHO, 2002).
      Di Indonesia diperkirakan sekitar 3-7% atau sekitar 5,5-10,5 juta anak usia di bawah 18 tahun (UU Perlindungan Anak no. 22 tahun 2004) menyandang ketunaan atau masuk kategori anak berkebutuhan khusus.
      Penurunan angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian balita (AKABA) seharusnya tidak diikuti dengan peningkatan angka kecacatan (disability / difability).
      Pengendalian angka kelahiran dan penurunan AKB dan AKABA -- program
      peningkatan kualitas anak
      * Life saving technology dan meningkatnya usia harapan hidup -- disabilitas meningkat

      FAKTOR RISIKO DISABILITAS
      a. Faktor genetik;
      b. Faktor lingkungan baik lingkungan internal (faktor-faktor yang terdapat dalam diri janin/bayi atau anak itu sendiri) dan faktor ekstrinsik seperti kondisi ibu hamil, lingkungan tempat tinggal, pola asuh (otoriter, partisipatif, demokratis, permisif), pola makan,
      c. Faktor rekayasa (terstruktur dan sistematis) baik rekayasa genetik maupun rekayasa lingkungan.

      PENYEBAB DISABILITAS
       Disabilitas bawaan : biasanya terjadi ketika anak masih dalam kandungan yang disebabkan ibu mengalami gangguan penyakit atau metabolisme, kelainan kromosomal, gangguan genetik, dll
      Disabilitas yang diturunkan (herediter): disebabkan kelainan genetik, misalnya : distrophia musculorum progresive, penyakit down syndrome.
      Disabilitas yang tidak diturunkan (non-herediter) : disebabkan waktu ibu hamil minum alkohol berat, kurang gizi, mengalami infeksi rubella dan toxoplasma, kekurangan hormon thiroid, trauma pada perut ibu amil atau akibat radiasi.

       Disabilitas setelah lahir (didapat) : terjadi pada saat proses kelahiran bayi -- kesalahan penanganan waktu persalinan, terinfeksi penyakit, bakteri, virus, kurang gizi, kecelakaan
      – Trauma kecelakaan
      – Kecacatan akibat kecelakaan
      – Kecacatan akibat bencana alam dan sosial
      – Penyakit (Penyakit infeksi : TBC, polio, dll; Penyakit pengeroposan tulang; Penyakit metabolik; Penyakit gizi)

      DETEKSI DINI ANAK DENGAN DISABILITAS
      Deteksi dini merupakan upaya penjaringan atau penemuan anak berkelainan (penemuan kasus) dan penyaringan atau penemuan faktor risiko (Sunartini 1992, Sunartini 2007, Ali Syahbana, 1996). Tujuan deteksi dini menemukan kelainan atau penyakit yang menyebabkan sesuatu kecacatan/ketidakmampuan sedini mungkin sebelum kelainan atau kecacatan yang lebih serius muncul dengan akibat yang lebih buruk.
      Beberapa kriteria untuk dilakukannya skrining antara lain :
      1) Keadaan atau kelainan yang mempunyai nilai penting bagi kesehatan masyarakat;
      2) Terdapat obat atau tindakan lain untuk menanganinya;
      3) Adanya fasilitas diagnostik dan pengobatan yang memadai dan terbukti bekerja efektif untuk mengatasi kondisi hanya yang belum pasti/belum jelas;
      4) Keadaan dalam fase laten atau tanda awal yang dapat dikenali oleh orang tuanya dan diketahui oleh profesional (dokter, perawat atau bidan);
      5) Pemeriksaan yang dilakukan sedapat mungkin yang sederhana, mudah, dan valid untuk keadaan/kelainan yang masih menjadi pertanyaan.


      INTERVENSI DINI ANAK DENGAN DISABILITAS
      Imunisasi atau vaksinasi merupakan pemenuhan hak anak untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan
      imunisasi (Sri Rejeki, 2000, Depkes,2006).
      Intervensi dini meliputi rehabilitasi, substitusi hormon, diet khusus maupun tindakan-tindakan pengobatan, tindakan operasi maupun koreksi bila diperlukan.

      ISSUE-ISSUE ANAK DENGAN DISABILITAS
      a) Masalah pertumbuhan dan perkembangan anak
      b) Hak anak tidak cukup disosialisasikan dan belum sepenuhnya dilaksanakan
      c) Tidak terpenuhinya fasilitas kesehatan dan sekolah.
      d) Anak dijadikan pekerja
      e) Perdagangan anak
      f) Anak berkebutuhan Khusus juga memiliki atau beresiko tinggi terkait dengan masalah dilingkungan seperti pelecehan seksual terhadap anak dan penyalahgunaan zat adiktif/obat.








      Bahan Lainnya..

      Toilet Training, Latihan mengontrol Kemih dan Buang Air Besar
      Apa sih Endorfin/Endorphine itu
      Terapi Kejang Listrik/Electro Convultion Therapy
      Share:

      Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan Anak Todler pada Ibu Bekerja

      Oleh : Jetris Saratial Sae 1, Koesnadi2, Heri Saputro2

      Pendahuluan : Perkembangan anak selalu dipengaruhi oleh pola asuh yang diterapkan masing-masing orang tua.
      Jika perhatian, kasih sayang serta stimulasi perkembangan terhadap anak tetap dapat diberikan meskipun ibu bekerja, maka sebenarnya apa yang dilakukan seorang ibu adalah perbuatan yang sangat mulia, karena ibu telah berperan aktif dalam membantu perekonomian keluarga disamping tugas utamanya sebagai seorang ibu. Sedangkan ibu yang tidak bekerja juga mampu memberikan kasih sayang dan melakukan stimulasi perkembangan pada anak dengan baik.
      Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui perbedaan pola asuh ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja terhadap perkembangan anak usia todler (1-3 tahun) di Kelurahan Kampungdalem Kota Kediri.
      Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan studi komparasi dengan pendekatan 
      cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kampung dalem dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Jumlah sampel yang didapat 40 orang sesuai kriteria inklusi. Pengumpulan data menggunakan lembar Kuisoner sedangkan analisa data menggunakan uji statistik Mann-Whitney
      Hasil : Dari hasil penelitian Pola Asuh yang di terapkan Ibu yang bekerja di Kelurahan Kampungdalem Kota Kediri yang terbanyak adalah pola asuh Otoriter sebanyak 16 responden (80%) dengan perkembangan anak sesuai perkembangan ada 1 orang, meragukan ada 5 orang dan menyimpang ada 10 orang. Sedangkan pola asuh yang di terapkan oleh ibu yang tidak bekerja di Kelurahan Kampungdalem Kota Kediri yang terbanyak adalah pola asuh demokratis sebesar 12 responden (60%) dengan perkembangan anak sesuai perkembangan ada 7 orang. Meragukan ada 4 orang dan menyimpang ada 1 orang. Sedangkan hasil analisis menunjukan bahwa ρ-Value 0,000 < α = 0.005 maka H0 ditolak atau ada pengaruh pola asuh ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja terhadap perkembangan anak usia todler (1-3 tahun).
      Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disimpulkan bahwa yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja memiliki penerapan pola asuh yang berbeda, hal ini dapat mempengaruhi perkembangan anak.

      Kata Kunci : Pola Asuh, Ibu Bekerja Dan Tidak Bekerja, Toddler

      Share:

      Kamis, 10 Oktober 2013

      Rabu, 09 Oktober 2013

      Toilet Training, Latihan Mengontrol Berkemih dan Defekasi


      Toilet Training atau biasa dikenal dengan latihan BAB (Latihan Defekasi) dan BAK (Latihan Berkemih), terjadi sekitar usia 18 dan 24 bulan, saat kontrol volunter sfingter anal dan uretra tercapai.
      Pada tahap ini memerlukan kesiapan psikologis anak, anak harus mampu mengeluarkan, menahan dan juga mengkomunikasikan sensasi ini kepada orang tua. Biasanya kesiapan psikologis dan fisiologis belum lengkap sebelum anak usia 18 sampai 24 bulan. Sebab pada masa ini, anak telah menguasai mayoritas keterampilan motorik kasar yang penting, sudah bisa mengkomunikasikan hal hal penting, menyadari kemampuan mengontrol diri dan memuaskan orang tua.
      Menurut Luxem and Christophersen (1994) latihan defekasi lebih cepat dan mudah daripada latihan berkemih. Sensasi defekasi (BAB) lebih kuat, lebih teratur dan lebih mudah diramalkan serta dapat menarik perhatian anak. Banyak yang belum menyelesaikan latihan berkemih pada usia 4 dan 5 tahun dan bahkan penyelesaian latihan yang lebih dari usia tersebut masih normal.
      Banyak teknik yang dapat membantu ketika memulai latihan, salah satunya pemilihan tempat duduk berlubang untuk eliminasi (Potty Chair) dan atau penggunaan toilet. Kemudian tempat duduk yang kakinya menjejak dilantai membuat anak merasa nyaman dan aman.
      Anak laki-laki bisa memulai toilet training dengan posisi berdiri atau duduk/jongkok ditempat yang telah disediakan, meniru ayahnya selama masa prasekolah merupakan dorongan motivasi yang sangat kuat.
      Sesi latihan harus dibatasi pada 5 sampai 10 menit, orang tua harus tetap mendampingi anak dan mengajarkan kebersihan (membersihkan) setiap kali selesai berkemih ataupun defekasi.
      Selalu memberikan pujian positif disetiap tindakannya, serta memakaikan pakaian yang mudah dilepas, selain itu juga memberikan contoh bagaimana berkemih ataupun defekasi yang benar sangat dianjurkan. Hal yang perlu diperhatikan adalah memukulnya bilapengeluaran eliminasi tidak pada tempatnya dan cara kontrol negatif HARUS dihindari (Taubman, 1997).
      Anak mengompol disiang hari di tempat yang tidak semestinya adalah hal yang biasa terutama pada periode aktivitas intensif, anak kecil jika sudah bermain terkadang melupakan berkemih jika tidak diingatkan, oleh karena itu anak-anak harus sering diingatkan dan diantar ke wc/toilet/rest room.


      Source;
      Wong’s Essentials Of Pediatric Nursing, 6th Ed, Mosby Inc

      Baca Juga: 

      Share:

      Kamis, 03 Oktober 2013

      Tulis Disini

      Nama

      Alamat Email *

      Isi Pesan *



      Share:

      Sabtu, 22 Juni 2013

      Sabtu, 30 Maret 2013

      APGAR Keluarga

      APGAR Keluarga merupakan kuesioner skrining singkat yang dirancang untuk merefleksikan kepuasan anggota keluarga dengan status fungsional keluarga dan untuk mencatat anggota-anggota rumah tangga.
      APGAR ini merupakan singkatan dari; Adaptation, Partnership, Growth, Affection dan Resolve.
       
      APGAR KELUARGA
      DefinisiFungsi yang Diukur Dengan APGAR KeluargaPertanyaan Terbuka yang Relevan
      Adaptasi Adalah Penggunaan sumber-sumber intra dan ekstra keluarga untuk menyelesaikan masalah jika keseimbangan keluarga tertekan selama krisisBagaimana sumber-sumber dibagi, atau seberapa besar derajat kepuasan anggota keluarga terhadap bantuan yang diterima ketika sumber-sumber keluarga dibutuhkanBagaimana anggota Keluarga saling membantu satu sama lain disaat membutuhkan sesuatu?, dengan cara apa anggota keluarga menerima pertolongan atau bantuan dari teman dan lembaga komunitas?
      Partnership (Kemitraan) adalah pembagian pengambilan keputusan dan memupuk tanggung jawab anggota keluargaBagaimana keputusan dibagi, atau bagaimana kepuasan anggota keluarga terhadap mutualitas dalam komunikasi dan penyelesaian masalah keluargaBagaimana anggota keluarga berkomunikasi satu sama lain tentang masalah-masalah tertentu seperti liburan, finansial, pengeluaran yang besar dan masalah pribadi?
      Growth (Pertumbuhan) adalah Kematangan fisik dan Emosional dan Pemenuhan diri sendiri yang dicapai oleh anggota keluarga melalui dukungan dan panduan yang mutualBagaimana pembagian pengasuhan atau kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan yang tersedia didalam keluarga untuk mengubah peran dan mencapai pertumbuhan atau kematangan fisik dan emosionalBagaimana perubahan anggota keluarga selama tahun-tahun terakhir, Bagaimana perubahan ini diterima oleh anggota keluarga, Dengan cara apa anggota keluarga saling membantu dalam pertumbuhan atau pengembangan gaya hidup yang mandiri, Bagaimana reaksi anggota keluarga pada keinginan untuk berubah?
      Afeksi (Kasih Sayang) adalah hubungan saling peduli atau saling mencintai yang terdapat diantara anggota keluargaBagaimana pengalaman emosional dibagi atau kepuasan anggota keluarga terhadap keintiman dan interaksi emosional yang ada di dalam keluarga.Bagaimana respon anggota keluarga anda terhadap ekspresi emosional seperti kasih sayang, cinta, penderitaan atau marah
      Resolve (Penyelesaian) Adalah komitmen untuk memberikan kesempatan pada anggota keluarga untuk perawatan fisik dan emosional. Hal ini juga biasanya melibatkan suatu keputusan untuk bberbagi kekayaan dan ruangBagaimana waktu(dan ruang dan uang) dibagi atau kepuasan anggota keluarga terhadap komitmen waktu yang telah dibuat oleh anggota keluarga untuk keluargaBagaimana anggota Keluarga anda berbagi waktu, ruang, dan uang?
      Dimodifikasi dari Smilkstein G: The Family APGAR: a proposal for a family function test and its use by physician, J Fam Pract 6(6):1231-1239, 1978



      Bacaan Terkait:
      Pengkajian Keperawatan Keluarga

      Share:

      Sabtu, 16 Februari 2013

      Pengaruh Pemberian Daun Kamboja Terhadap Penyembuhan Luka Bakar

      Oleh : Chandra I.G. Febrian 1, Sentot Imami2, Lingga K Wardani2


      Latar Belakang : Luka Bakar merupakan jenis kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibatkan sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi dan radiasi yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan kulit luar (Epidermis) maupun dalam (Dermis). Banyak cara yang digunakan untuk menyembuhkan luka bakar salah satunya metode tradisional seperti penggunaan tanaman kamboja (plumeria acuminate)
      Tujuan Penelitian: Membuktikan adanya pengaruh pemberian daun kamboja (plumeria acuminate) terhadap penyembuhan luka bakar.
      Metode Penelitian: Jenis penelitian ini menggunakan true experimental design. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Universitas Brawijaya Malang selama 10 hari. Subyek penelitian adalah tikus putih betina (rattus novergicus strain wistar) sebanyak 20 ekor tikus putih betina yang dibagi menjadi 4 kelompok, 3 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data menggunakan observasi dengan perlakuan ekstrak daun kamboja pada luka dengan dosis yang sama. Data dianalisis menggunakan Uji Paramentrik Annova
      Hasil: Kelompok A, 2 sampel mendekati sembuh, Kelompok B, 2 sampel sembuh dan 2 sampel mendekati sembuh, Kelompok C, 4 Sampel yang sembuh, sedangkan kelompok kontrol hanya 1 sample yang mendekati sembuh
      Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian daun kamboja (plumeria acuminate) terhadap penyembuhan luka bakar.


      Kata Kunci: Luka Bakar, Daun Kamboja, Tikus Putih.



      PENDAHULUAN

      Luka bakarmerupakan jenis kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibatkan sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi, dan radiasi, yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan kulit  luar (epidermis), dan (dermis). Akibat yang ditimbulkan luka bakar dapat menjadi lebih serius, Hal ini bisa menyebabkan kehilangan cairan, lebih rentan untuk mengalami hipotermia (penurunan suhu tubuh akibat pendinginan). Dan mudah terjadi infeksi. ( Moenajad, 2001 ).
      Ada tiga fase dari luka bakar yaitu: luka bakar derajat 1, yang terjadi bila kulit terpapar suhu panas pada daerah epidermis ( luas ), luka derajat 2, jika kerusakan kulit meliputi epidermis dan sebagian dermis dan ditandai dengan adanya reaksi inflamasi disertai proes eksudasi. Derajat 3, bila kerusakan kulit sudah mengenai daerah dermisdsan lebih dalam. (Brunner & Suddarth. 2001).
      Penyembuhan luka bakar terkait dengan kembalinya fungsi sel dan organ tubuh kembali pulih, dengan sirkulasi darah merah yang normal dan asupan vitamin yang cukup, dan yang terpenting menjaga keadaan luka tetap bersih dan tidak terinfeksi, yang ditunjukkan dengan tanda dan respon yang berurutan dimana sel jaringan kulit secara bersama - sama, melakukan tugas dan berfungsi secara normal. Idealnya luka yang sembuh kembali normal secara struktur anatomi, fungsi dan penampilan. Perawatan luka saat ini berkembang cepat, dengan metode metode yang berbeda, jika tenaga kesehatan dan pasiennya memanfaatkan terapi yang sesuai dengan kebutuhan, semua tujuan perawatan luka adalah untuk membuat luka stabil dengan perkembangan jaringan yang baik dan suplai darah yang adekuat. (Tarigan. 2007).
      Akhir akhir ini telah kita jumpai dan kita lakukan pada pengobatan luka bakar yang sudah menjadi tradisi turun temurun dari orang tua, dan mungkin hal ini sudah ada sejak zaman dahulu, yaitu dengan menggunakan metode tradisional atau non medis. Sebenarnya penyembuhan luka yang secara benar sudah kita ketahui secara medis dengan penggunaan obat dan tarapi medis lainnya. Pengobatan non medis sangat banyak kita jumpai dikehidupan kita dengan salah satunya menggunakan tanaman kamboja (Plumeria acuminate) yang diyakini dapat menyembuhkan luka bakar, biasanya tanaman ini yang dapat digunakan untuk menyembuhkan luka bakar yaitu dengan menggunakan daun kamboja (Plumeria acuminate), yang di tumbuk dan dioleskan pada luka tersebut. Dalam tanaman kamboja (Plumeria acuminate) dipercaya memiliki kandungan senyawa agoniadin, plumierid, asam plumerat, lipeol, dan asam serotinat, plumierid merupakan suatu zat pahit beracun. Kandungan kimia getah tanaman ini adalah damar dan asam plumeria sedangkan kulitnya mengandung zat pahit beracun. Akar dan daun kamboja (Plumeria acuminate),  mengandung senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol, selain itu daunnya juga mengandung alkaloid. Tumbuhan ini mengandung fulvoplumierin, yang memperlihatkan daya mencegah pertumbuhan bakteri, selain itu juga mengandung minyak atsiri antara lain geraniol, farsenol, sitronelol, fenetilalkohol dan linalool. Kulit batang kamboja mengandung flavonoid, alkaloid, polifenol. yang bisa menyembuhkan luka bakar. (Arief Hariana. 2008).
      Berdasarkan fenomena pengalaman dari masyarakat Desa Kapong Kecamatan Batumarmar Kabupaten Pamekasan Madura mengenai tanaman kamboja (Plumeria acuminate), yang dipercaya masyarakat dan diyakini sebagai tanaman yang mempunyai bermacam macam kegunaannya juga sebagai obat yang dapat penyembuhkan luka bakar. Bahkan dari beberapa mayarakat Desa Kapong Kecamatan Batumarmar Kabupaten Pamekasan Madura yang memanfaatkan Daun Kamboja (Plumeria acuminate) sebagai obat luka. Maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul ” Pengaruh Pemberian Daun Kamboja (Plumeria acuminate) Terhadap Penyembuhan Luka Bakar  Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus strain Wistar)”. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan obyek tikus putih (Rattus norvegicus strain Wistar) karena didalam kandungan tanaman kamboja (Plumeria acuminate) terdapat zat pahit beracun. Sehingga peneliti tidak mau mengambil resiko


      Metode
      Penelitian ini menggunakan true experimental design, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan kepada beberapa kelompok perlakuan dan satu kelompok kontrol. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi Universitas Brawijaya Malang selama 10 hari. Subyek penelitian adalah tikus putih betina (rattus novergicus strain wistar) sebanyak 20 ekor tikus putih betina yang dibagi menjadi 4 kelompok, 3 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol (menggunakan NaCl) dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data menggunakan observasi dengan perlakuan ekstrak daun kamboja pada luka dengan dosis yang sama. 
      Kriteria Inklusi pada Penelitian ini adalah:
      -  Berat Badan tikus antara 200 - 250 gram
      -  Umur tikus 3 bulan
      -  Kondisi tikus dalam keadaan sehat
      -  Tikus dengn luka bakar derajat 1

      HASIL

      Dari penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti pada kelompok perlakuan didapatkan hasil yang berbeda beda, dengan perlakuan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate), proses perlakuan yaitu dengan luka bakar dibersihkan terlebih dahulu dengan kasa steril, kemudian diberikan ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate), pada perlakuan ini tiap luka diberi dosis 2 g untuk 1x perlakuan, kemudian luka ditutup dengan 1 kasa steril dan kemudian di plester. Kelompok A, dengan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) dosis 2 g diberikan 1 x sehari. Pada hari ke 10 nampak ada 2 sampel tikus yang mendekatisembuh, dan ada 3 sampel tikus yang tidak sembuh, tetapi kulitnya tidak kembali secara anatomis, hal ini dikarenakan luka bakar membutuhkan keteraturan perawatan dan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate). Kelompok B, dengan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) dosis 2 g diberikan 2x sehari. Pada hari  ke 10 nampak ada 2 sampel tikus yang sembuh, dan ada 2 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang tidak sembuh, tetapi ada 1 sampel tikus yang kulitnya kembali secara anatomis. Sedangkan pada kelompok C dengan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) dosis 2 g diberikan 3 x sehari. Pada hari  ke 10 nampak ada 4 sampel tikus yang sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang tidak smbuh, dan 3 sampel tikus kulitnya kembali secara anatomis dan 2 sampel tikus kulitnya tidak kembali secara anatomis.
      Khasiat kamboja secara medis belum dibuktikan, tetapi secara empirik sudah banyak digunakan sebagai bahan obat. Seluruh bagian tanaman kamboja, seperti kulit batang, batang, daun, akar, dan bunganya memiliki khasiat obat.

      Sehingga ada keselarasan antara teori dan fakta bahwa didalam kandungan daun kamboja dapat digunakan untuk menyembuhkan luka bakar derajat 1 (area epidermis).
      Pada kelompok kontrol, menunjukkan bahwa pada hari pertama sampai hari ke 10, dari ke 5 sampel pada kelompok kontrol hanya 1 sampel tikus yang mendekati sembuh dan kulit tidak kembali secara anatomis, dan ada 4 sampel tikus yang tidak sembuh.Sampel pada kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakuan pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate), tetapi kelompok kontrol mendapatkan perawatan luka pada pagi hari menggunakan NaCL 0,9%, dan setelah dilakukan perawatan luka, kemudian juga di perban dengan menggunakan 1 kasa steril, dan di plaster, nampak 1 sampel yang mendekati sembuh, hal ini dikarenakan kurangnya keteraturan perawatan luka bakar pada kelompok kontrol.
      Berdasarkan hasil observasi pada kelompok kontrol didapatkan hasil pada proses pnyembuhan luka bakar mulai dari hari 1 sampai hari ke 3, ke 5 sampel masuk pada indikator kulit kemerahan, eksudat tampak kering, luka tidak bau, jaringan nekrotik, hari ke 4 sampai hari ke 8, ke 5 sampel masuk pada indikator eksudat tampak kering, luka tidak bau, jaringan nekrotik, tepi luka kering, hari ke 9, ke 5 sampel masuk pada indikator kulit kemerahan, luka tidak bau, tepi luka kering, dan hari ke 10, sampel tikus 1 masuk pada indikator kulit kemerahan, eksudat tampak kering, luka tidak bau, tepi luka kering, sampel tikus 2 masuk pada indikator kulit kemerahan, luka tidak bau, tepi luka kering, sampel tikus 3 masuk pada indikator kulit kemerahan, luka tidak bau, tepi luka kering, sampel tikus 4 masuk pada indikator kulit kemerahan, luka tidak bau, tepi luka kering sampel tikus 5 masuk pada indikator luka tidak bau, tepi luka kering, Lama proses penyembuhan luka bakar ini juga dipengaruhi oleh faktor pola tikus yang sering menggigit balutan kasa sehingga ada sebagian sampel yang terlepas balutannya hal ini mengakibatkan luka menjadi mudah terinfeksi. Selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi luka yang lembab sehingga proses penyembuhan luka menjadi lama. Pemberian NaCL pada luka kurang efektif, dikarenakan NaCL hanya dapat membersihkan luka dari kuman agar tidak terinfeksi. Sedangkan fungsi khusus di bidang kesehatan terutama karena adanya garam nacl adalah menurunkan gejala inflamasi (peradangan), serta menyembuhkan infeksi.
      Dari 4 kelompok diatas luka tidak sembuh 100% dikarenakan, kasa pada luka sering terlepas sehingga bakteri atau kuman cepat masuk, kelakuan tikus yang sering menggigiti bagian tubuhnya yang terdapat luka dan luka bakar drajat 1 tidak bisa sembuh sempurna melainkan akan sembuh dengan jaringan kemerahan bila tersinggung akan berdarah.
      Hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) terhadap proses penyembuhan luka bakar menyebabkan perbedaan penyembuhan luka, tampak perbedaan pada setiap kelompok menunjukkan hasil yang berbeda penyembuhan luka bakar secara signifikan maupun secara deskriptif tampak bahwa penyembuhan luka pada kelompok perlakuan C, lebih banyak sampel yang telah sembuh hampir sembuh 100%, dari pada kelompok perlakuan A, B, maupun kelompok kontrol, pada hari ke 10. Hal yang membedakan dari kedua kelompok kontrol dan kelompok perlakuan adalah faktor pemberian ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate), yang dalam dugaan bisa menyembuhkan luka bakar, dan ternyata hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate) bisa menyembuhkan luka bakar.
      Dengan kesimpulan penyembuhan luka bakar tidak cukup hanya dengan menggunakan daun kamboja (plumeria acuminate) saja. Tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu kondisi tubuh, gizi seimbang, usia muda lebih cepat sembuh dari pada usia tua, sterilitas luka bakar, pemilihan daun kamboja (plumeria acuminate) yang bagus, proses sterilitas pembuatan ekstrak daun kamboja (plumeria acuminate).

      KESIMPULAN

      Proses penyembuhan luka bakar pada  perlakuan kelompok A nampak 2 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan 3 sampel tikus tidak sembuh. Pada perlakuan kelompok B nampak 2 sampel tikus yang sembuh, dan 2 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang tidak sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang kulitnya kembali secara anatomi. Pada peralakuan kelompok C, nampak 4 sampel tikus yang sembuh, dan ada 1 sampel tikus yang tidak sembuh, dan ada 3 sampel tikus yang kulitnya kembali secara anatomi.
      Proses penyembuhan luka bakar pada  kelompok kontrol dari ke 5 sampel nampak 1 sampel tikus yang mendekati sembuh, dan ada 4 sampel tikus yang tidak sembuh tetapi ke 5 sampel tikus kulitnya tidak kembali secara anatomi.
      Didapatkan hasil  p=0,019 (p valueα=0,05 ) berarti  Ho ditolak dan minimal ada pengaruh yang signifikan pemberian daun kamboja (plumeria acuminate)terhadap proses penyembuhan luka bakar pada tikus putih selama 10 hari.

      Share:

      Sample Text

      Copyright © Sharing and Health Education | Powered by Blogger